Kompas.com - 27/08/2020, 09:46 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com – Remaja bisa jadi agen perubahan dalam menurunkan angka kejadian stunting atau kurang gizi kronis di Indonesia. Caranya adalah dengan meningkatkan pemahaman tentang gizi dan kesehatan sejak dini.

Pengamat kesehatan dan juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 dr.Reisa Broto Asmoro mengatakan, ilmu mengenai parenting, kesehatan reproduksi, termasuk pola makan yang bergizi, perlu diberikan kepada remaja sejak usia pubertas.

Pengetahuan tersebut bisa diajarkan di sekolah-sekolah bersama dengan informasi kesehatan reproduksi.

”Kalau sebelum hamil tidak ada persiapan maka ada risiko stunting. Itu sebabnya penting pengetahuan gizinya sudah bagus dulu sebelum punya keturunan,” katanya dalam diskusi virtual Saatnya Remaja Berperan Cegah Stunting yang diselenggarakan Tanoto Foundation di Jakarta, Rabu (26/8/2020).

Data Riskesdas 2018 menunjukkan, 8,7 persen remaja usia 13-15 dan 8,1 persen remaja usia 16-18 berada dalam kondisi kurus dan sangat kurus. Angka anemia pada remaja juga tinggi.

Sementara itu, Global School Health Survey pada 2015 melaporkan, sebanyak 65,2 persen remaja tidak selalu sarapan dan 93,6 persen kurang mengonsumsi serat sayur buah.

Kondisi itu diperparah dengan tingginya angka pernikahan remaja di Indonesia yang cenderung belum siap secara fisik dan mental untuk berkeluarga.

“Mereka belum peduli pentingnya gizi dan stimulasi yang tepat pada anak. Pengetahuan mereka sangat terbatas tapi mereka harus menikah, harus hamil dan jadi ibu,” kata Program Advocacy and Communications Manager Tanoto Foundation Indiana Basitha.

Baca juga: Remaja Perlu Dilibatkan dalam Pencegahan Stunting

Reisa menambahkan, status gizi yang buruk pada calon ibu dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan dan persalinan. Bayi yang dilahirkan juga beresiko lahir prematur atau berat lahir rendah.

“Remaja harus disadarkan dia harus sehat. Mereka memang belum terlalu peduli dengan kesehatannya, makan juga masih sembarangan. Di sini peran orangtua juga penting untuk menyediakan makanan yang bergizi di rumah sehingga jadi kebiasaan,” katanya.

Pemberian edukasi seputar gizi dan kesehatan untuk remaja harus diberikan sesuai gaya remaja atau pun bisa lewat teman-teman sebayanya.

Melinda Mastan, Tanoto Scholar 2017 dan Sarjana Gizi Universitas Indonesia, mengatakan media sosial bisa jadi saluran yang pas untuk mengedukasi remaja.

"Saat ini soal diet dan kecantikan, diperhatikan oleh remaja. Dari ketertarikannya merawat diri bisa jadi jalan masuk. Untuk gizi, bisa dimasukan dari keingintahuannya soal kecantikan agar menarik," kata Melinda.

Baca juga: Awas, Salah Diet pada Remaja Bisa Sebabkan Masalah Kesehatan



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X