Kompas.com - 30/08/2020, 11:14 WIB

KOMPAS.com – Sejak pandemi dimulai, sudah jelas bahwa pria lebih rentan mengalami perburukan penyakit jika terinfeksi Covid-19 dibandingkan dengan wanita. Kini para ilmuwan mulai memahami penyebabnya.

Ternyata memang ada perbedaan signifikan pada sistem kekebalan tubuh pria dan wanita dalam merespon virus corona baru ini.

Ini sebabnya pria lebih rentan mengalami perburukan dan risiko kematiannya lebih tinggi. Secara global, 60 persen angka kematian Covid-19 terjadi pada pria.

Dalam riset terbaru yang dilakukan tim dari Universitas Yale terungkap perbedaan respon imun sebagai penyebabnya.

Ketua peneliti, profesor bidang imunologi dan molekuler, Akiko Iwasaki, dan timnya menganalisis sampel darah, air liur, dan cairan hidung dari pasien Covid-19 dan membandingkannya dengan orang yang sehat.

Pasien tersebut lalu diamati dari waktu ke waktu untuk mengetahui bagaimana respon sistem imunnya pada awal infeksi, serta bagaimana perbedaannya antara pasien yang sembuh dan yang mengalami perburukan penyakit.

Baca juga: Kadar Gula Darah Tinggi Memperburuk Infeksi Covid-19

Iwasaki menemukan, pria dan wanita memiliki respon imun sangat berbeda di awal fase infeksi corona. Misalnya saja, pria memiliki level protein inflamasi yang disebut sitokin lebih tinggi.

Protein tesebut digunakan oleh sistem kekebalan pada awal infeksi untuk menciptakan peradangan sebagai penghalang fisik melawan patogen yang menyerang.

Kendati begitu, pasien yang mengalami perburukan penyakit karena tubuhnya membuat banyak sitokin. Badai sitokin ini akan menyebabkan banyak cairan di paru-paru dan menurunkan kadar oksigen. Dampaknya adlaah shock, kerusakan jaringan dan gagal organ.

Pasien pria mengalami perburukan penyakit karena konsentrasi sitokin yang tinggi di awal fase infeksi.

Sebaliknya, pada wanita justru yang lebih aktif adalah sel-T, komponen lain dari sistem imun. Sel-T merupakan sel darah putih yang bisa mengenali virus yang masuk lalu membunuhnya.

Baca juga: Suhu Tubuh Manusia Bisa Menunjukkan Adanya Infeksi hingga Kematian

Respon sel-T yang lemah pada pria menyebabkan perburukan penyakit dan pasien wanita yang kadar sitokinnya tinggi kondisinya juga tidak lebih baik.

Menanggapi hasil penelitian ini, para ilmuwan mengatakan bahwa diperlukan strategi yang berbeda untuk memastikan terapi dan juga vaksin yang sedang dibuat sama-sama efektif bagi pria dan wanita.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.