10 Cara Mengatasi Stres akibat Pandemi yang Tak Kunjung Usai

Kompas.com - 07/09/2020, 12:25 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Di awal masa pandemi Covid-19, banyak orang mengalami stres dan depresi karena perubahan yang tiba-tiba dalam kehidupan sehari-hari.

Seiring berjalannya waktu, stres tersebut mungkin sudah tidak lagi dialami. Namun, beberapa orang justru mengalami stres baru karena kondisi pandemi yang tak kunjung usai.

"Orang-orang mengalami frustrasi, stres dan dalam beberapa kasus, depresi terhadap masa depan," kata psikolog Susan Albers, PsyD, seperti dilansir clevelandclinic.org.

Apakah kamu salah satunya? Jika iya, tak apa-apa. Itu adalah emosi yang wajar dirasakan di tengah ketidakpastian ini.

Bila kamu tengah mencari solusinya, 10 cara berikut mungkin bisa membantumu mengurangi rasa stres itu secara perlahan.

1. Mengambil kendali

Menurut Dr. Albers, manusia pada dasarnya suka ketika mereka memiliki kontrol atas sesuatu. Kita memang tidak memiliki tongkat ajaib untuk bisa melenyapkan virus corona dalam sekejap, tapi kita bisa fokus pada hal-hal di mana kita bisa memiliki kendali atas hal tersebut.

Tak perlu muluk-muluk, bahkan hal itu bisa merupakan kegiatan sederhana, seperti pada jam berapa kita pergi tidur setiap malam.

"Buatlah daftar mengenai hal-hal apa saja yang berada di dalam kendali kita dan kumpulkan energi untuk fokus pada hal-hal tersebut," katanya.

Baca juga: Cara Mengendalikan Kecemasan di Tengah Pandemi Corona

2. Hadir di masa kini

Membayangkan kehidupan di bulan mendatang, tahun mendatang, atau masa depan yang lebih jauh mungkin membuat kita menjadi lebih stres dan berpikir secara berlebihan alias overthinking.

Oleh karena itu, cobalah meluangkan waktu dan melakukan praktik kesadaran. Buatlah dirimu lebih sadar dan fokus pada masa kini. Nikmati dan rasakan apa yang kamu lakukan saat ini.

Baca juga: Belajar Mindfulness Bikin Kita Jadi Orang yang Ramah

3. Berhenti membandingkan

Banyak orang-orang merasakan sedih karena memikirkan apa saja yang telah hilang.

Hari-hari penuh rapat virtual tentu tidak sama dengan tahun lalu, di mana kita bisa berpesta dan makan-makan bersama orang-orang tercinta.

Menghabiskan waktu liburan dengan menginap bersama pasangan mungkin tidak semenyenangkan sebelumnya.

Sayangnya, memikirkan apa yang hilang dan sudah tidak kita miliki dalam hidup akan membuat kita tidak melihat hal-hal baik dalam hidup.

"Beberapa rasa sedih yang kita rasakan mungkin ada karena kita membandingkan masa depan dengan masa lalu. Jika kamu hanya melihat apa yang terjadi hari ini, kamu mungkin menyadari bahwa hidupmu tidak seburuk apa yang dipikirkan," ucap Dr. Albers.

Baca juga: Siasati Warna-Warni Kehidupan dengan Bersyukur

4. Tetap melangkah ke depan

Pikiran-pikiran burukmu membuatmu seperti terus berada di pola yang sama.

Kamu mungkin tidak bisa lagi traveling atau berpesta di luar, namun kamu bisa menikmati aktivitas lain seperti berkebun, memelihara binatang, atau memulai tradisi piknik bersama keluarga.

Lanjutkan hidup dan terus tumbuh. Manfaatkan waktu-waktu ini untuk menikmati harimu.

5. Memberi jeda

Pandemi membuat kita semua memiliki banyak rutinitas baru. Seperti membiasakan diri menggunakan masker hampir di semua tempat, rajin mencuci tangan dan memakai hand sanitizer, bekerja dari rumah, hingga menemukan cara-cara baru untuk terhubung dengan keluarga dan teman dari jarak jauh.

Mengubah kebiasaan-kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru adalah hal yang melelahkan. Jadi, berikan otakmu waktu istirahat dengan menjadikannya sebuah rutinitas, sesuai yang kamu bisa.

Misalnya, dengan tetap menggunakan masker di dalam mobil, kamu tidak perlu mencari-carinya ketika keluar dari mobil.

Hal lainnya adalah menetapkan jadwal belanja rumah tangga rutin secara otomatis, sehingga kamu tidak perlu khawatir kekurangan pasokan. Atau kamu bisa juga menetapkan salah satu hari sebagai waktu makan makanan kesukaan.

Menjadikan kebiasaan-kebiasaan baru sebagai rutinitas akan mengurangi beban mental untuk diri kita.

Baca juga: 10 Kebiasaan yang Membuat Kita Tidak Bahagia

6. Mencari sisi positif

Mungkin hal ini sulit untuk dipraktikkan, namun fokus pada hal-hal positif bisa membantu kita untuk terus melangkah ke depan setiap harinya.

Misalnya, bekerja dari rumah membuat kita tak perlu menghabiskan waktu di tengah kemacetan, atau bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga. Atau, kita bisa juga bersyukur atas hal sederhana seperti kesehatan yang masih kita miliki sampai hari ini.

"Cara kita berpikir tentang sebuah situasi bisa menjadi bantuan atau penghalang. Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan ini untuk menemukan sisi positif," ucap Dr. Albers.

Baca juga: 10 Hal Positif dari Masa Karantina

7. Terhubung

Untuk banyak orang, salah satu hal terberat dari pandemi adalah kehilangan relasi sosial. Kita sudah menjalaninya selama berbulan-bulan, namun bukan berarti kita boleh menyerah terhadap lingkungan sosial kita.

Menurut Dr. Albers, ada baiknya jika kita tetap berupaya untuk tetap berhubungan dekat, misalnya bertemu namun tetap menerapkan protokol jaga jarak atau cukup berbincang melalui sambungan telepon.

"Kita harus tetap menemukan cara untuk memenuhi kebutuhan sosial kita," katanya.

Baca juga: Kehidupan Sosial, Kunci Mencegah Depresi

8. Temukan cara baru menghilangkan stres

Sebelum pandemi menyerang, pergi ke pusat kebugaran atau minum kopi dengan teman-teman mungkin menjadi caramu untuk menghilangkan stres. Namun, tidak semua aktivitas lama bisa kita lakukan saat ini.

Jadi, cobalah menemukan cara baru untuk menghilangkan stres.

Kamu mungkin bisa mencoba hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya, seperti meditasi atau lari di luar ruangan.

Kuncinya adalah fokus mencoba hal-hal baru, alih-alih mengusahakan strategi lama yang sudah tidak lagi berfungsi.

"Daripada fokus dengan apa yang hilang, lebih baik berpikir tentang kesempatan untuk berevolusi," ungkapnya.

Baca juga: 10 Manfaat Meditasi untuk Menjaga Kesehatan Mental dan Fisik

9. Menuliskan emosi

Banyak orang memiliki perasaan stres, sedih dan frustrasi yang sama, saat ini. Maka, kamu bisa mencari teman yang memiliki perasaan sama untuk membicarakannya bersama.

Dr. Albers juga merekomendasikan untuk menuliskan emosi yang dirasakan dalam sebuah jurnal.

"Emosi kita naik-turun di masa pandemi seperti saat ini. Menuliskan perasaan tersebut dalam sebuah jurnal bisa membantu kita untuk lebih lepas dan melihat semuanya dari kacamata yang lebih besar," ucap Dr. Albers.

Baca juga: Menulis Jurnal Harian Sebagai Terapi Emosi

10. Cari bantuan

Kehidupan di masa pandemi bisa sangat sulit bagi sebagian orang, maka wajar jika kita memiliki hari-hari baik dan hari-hari buruk.

Namun, jika kamu merasakan sangat terbebani dengan kondisi, mungkin ada baiknya jika mencari bantuan profesional kesehatan untuk membantumu mengatasi masalah yang dihadapi.

"Ini adalah masa yang sulit. Jika kamu merasakan tanda-tanda depresi, profesional kesehatan mental bisa menawarkan dukungan dan bantuan," kata dia.

Baca juga: Stres karena Kesepian di Masa Pandemi, Harus Bagaimana?



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X