Kompas.com - 10/09/2020, 15:18 WIB
Petugas mengecek suhu tubuh nelayan Myanmar saat persiapan untuk dideportasi di Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Lampulo, Banda Aceh, Rabu (5/8/2020). Dari 15 nelayan asal Myanmar yang ditangkap bersama 3 unit kapal berbendera Malaysia pada 2019 dan 2020 terkait kasus illegal fishing di ZEE Selat Melaka wilayah perairan Indonesia, 9 ABK di antaranya dideportasi ke negara asal, sedangkan 6 lainnya yang terdiri dari nakhoda dan ABK ditahan untuk proses penyidikan dan saksi. AFP/CHAIDEER MAHYUDDINPetugas mengecek suhu tubuh nelayan Myanmar saat persiapan untuk dideportasi di Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Lampulo, Banda Aceh, Rabu (5/8/2020). Dari 15 nelayan asal Myanmar yang ditangkap bersama 3 unit kapal berbendera Malaysia pada 2019 dan 2020 terkait kasus illegal fishing di ZEE Selat Melaka wilayah perairan Indonesia, 9 ABK di antaranya dideportasi ke negara asal, sedangkan 6 lainnya yang terdiri dari nakhoda dan ABK ditahan untuk proses penyidikan dan saksi.

Bicara soal udara dalam ruangan, pola aliran udara sangat memengaruhi tingkat penyebaran dan terkadang malah dapat memperburuk keadaan.

Menurut Capecelatro, ketika terjadi turbulensi misalnya, partikel virus akan mengelompok dan akan meningkatkan jumlah partikel yang mungkin kita hirup.

Selain beberapa penelitian yang secara khusus menganalisis penyebaran virus di beberapa lokasi di sejumlah negara, pandemi juga dilaporkan banyak terjadi di dalam ruangan, termasuk pusat kebugaran, rumah ibadah, tempat jasa pelayanan, dan lainnya.

Namun, banyak penelitian yang hanya mengamati laju aliran udara rata-rata, bukan fluktuasi pergerakan udara di dalam ruang.

Baca juga: Penting, Udara dalam Ruangan Harus Bersih Selama Pandemi

Dalam lift

Sebuah penelitian pracetak lain dari para peneliti di University of Minnesota College of Science and Engineering melihat lebih detail bagaimana virus corona menyebar di dalam ruangan ketika diembuskan oleh orang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mereka menganalisis tiga pengaturan khusus, yakni lift, ruang kelas kecil, dan supermarket.

Penelitian tersebut menemukan bahwa ventilasi yang baik dapat menghilangkan beberapa partikel virus dari udara, tetapi banyak yang akan berakhir di permukaan di dalam ruangan.

Penulis studi sekaligus seorang profesor teknik mesin di University of Minnesota, Jiarong Hong, PhD, mengatakan bahwa permukaan tersebut tidak sering dibersihkan, partikel tersebut dapat menempel di seseorang ketika mereka menyentuh permukaan.

Partikel juga bisa tersuspensi kembali di udara dan dihirup.

Dalam beberapa kasus, ventilasi yang buruk dapat menyebabkan “titik panas” alias hot spot, atau lokasi tempat partikel virus berkumpul.

Baca juga: Studi: Virus Corona Bisa Bertahan Lama di Udara dan Permukaan

Penelitian Hong menunjukkan cara memperbaiki beberapa masalah ini. Beberapa di antaranya adalah melihat seberapa ramai tempat tersebut, apakah orang-orang yang ada di sana disiplin mengenakan masker dan bagaimana aliran udaranya.

Untuk menekan tingkat penyebaran, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah mempersingkat keberadaan kita di ruangan tersebut.

Model jaga jarak baru

Para penulis di penelitian BMJ menuliskan saran-saran jaga jarak baru yang dianggap bisa mengurangi risiko-risiko yang mereka temukan.

Risiko paparan sebetulnya bervariasi pada setiap tempat. Misalnya di pesta kebun, di mana orang-orang cenderung bisa saling berjauhan satu sama lain dan semua memakai masker, maka risikonya cenderung rendah.

Baca juga: Tertular Penjual, 8 Pembeli Soto Lamongan Positif Covid-19, Gugus Tugas: Padahal Sudah Pakai Masker

Orang-orang bisa saja berada di sana selama satu jam atau lebih dan masih berisiko rendah. Bahkan, mereka bisa berteriak atau bernyanyi. Namun, jika mereka melepas masker, risikonya cenderung lebih tinggi.

"Jika kita memakai masker, aturan jaga jarak dua meter masih sangat efektif. Namun, jika tidak, maka kita bisa saja terinfeksi virus dalam jarak dua meter," kata Capecelatro.

Tempat-tempat keramaian atau ruangan tertutup dengan ventilasi buruk juga merupakan contoh ruang dengan kemungkinan risiko lebih tinggi.

Hal terpenting yang perlu diingat adalah risiko penyebaran sangat bervariasi di setiap pengaturan tempat.

"Aturan umumnya adalah menjaga jarak dari seseorang untuk mengurangi kemungkinan kita menghirup tetesan yang mereka keluarkan," kata Capecelatro.

"Meskipun aturan dua meter sudah kita berlakukan sejak lama, tetapi setidaknya saat ini kita tahu bahwa di tempat-tempat tertentu kita mungkin harus menjaga jarak lebih dari itu."

Baca juga: Beredar Kabar Ruangan di RSD Wisma Atlet Terisi Penuh Pasien Covid-19, Begini Faktanya...

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Sumber Healthline
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.