Orang Dewasa Muda Perokok Vape Lebih Berisiko Terinfeksi Covid-19

Kompas.com - 11/09/2020, 10:29 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

Sebuah studi yang baru-baru ini dilakukan menemukan bahwa remaja dan dewasa muda yang merokok dan menggunakan vape lima kali lebih mungkin melaporkan gejala Covid-19, dan tujuh kali lebih mungkin untuk didiagnosis mengalami penyakit tersebut.

Analisis gabungan yang menggunakan data dari berbagai penelitian menemukan bahwa di antara orang yang terinfeksi Covid-19, orang-orang yang memiliki riwayat merokok dua kali lebih mungkin mengalami perkembangan penyakit tersebut.

Meningkatkan risiko penularan

Tidak seperti faktor risiko lain untuk penyakit Covid-19 yang parah, merokok dan menggunakan vape juga secara inheren meningkatkan risiko penularannya.

Dua aktivitas tersebut sering kali merupakan kegiatan sosial bagi kelompok dewasa muda, sehingga banyak juga dilakukan di tempat umum dan keramaian.

Merokok dan penggunaan vape melibatkan embusan napas secara paksa, yang dapat mendorong tetesan yang mereka lepaskan menjangkau lebih jauh daripada pernapasan ketika istirahat. Menjadi berbahaya ketika tetesan tersebut membawa partikel Covid-19.

Aanjuran jaga jarak dua meter ketika berada di luar rumah tampaknya juga tidak berlaku bagi perokok vape karena mereka harus lebih dari jarak itu.

Baca juga: Mengapa Jarak 2 Meter Ternyata Tak Cukup Cegah Penyebaran Covid-19?

Ketika merokok, otomatis mereka tidak menggunakan masker. Faktor-faktor tersebut ketika dikombinasikan akan membawa ancaman nyata di tempat orang-orang berkumpul.

Oleh karena itu, sekolah ataupun tempat umum lainnya akan lebih baik jika melarang aktivitas merokok dan penggunaan vape sebagai bagian dari pencegahan penularan.

Terlalu percaya diri aman dari Covid-19

Orang muda cenderung menilai diri mereka terlalu tinggi dan menganggap bisa mengontrol situasi. Tak sedikit yang menyepelekan Covid-19 dan menganggap diri mereka tak terkalahkan.

Kepercayaan diri yang terlalu tinggi bahwa kelompok muda aman dari Covid-19 adalah hal yang salah.

Menurut laporan CDC, satu dari lima orang berusia 22 hingga 44 tahun telah terinfeksi dan dirawat di rumah sakit, sedangkan dua hingga empat persennya membutuhkan unit perawatan intensif.

Hal terbaik yang bisa dilakukan untuk kelompok muda adalah menyadari bahaya pandemi ini dan berhenti merokok.

Baca juga: Tak Ada Alternatif Rokok yang Lebih Sehat Selain Berhenti


Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X