Merasa Lelah Fisik dan Emosional? Waspadai Krisis Kelelahan

Kompas.com - 12/09/2020, 20:00 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

Namun, ketika stres menjadi kronis dan berlangsung selama berminggu-minggu, efeknya berbahaya dan dalam kondisi yang sangat berulang atau parah, dapat menyebabkan kelelahan krisis.

Levounis menjelaskan bahwa orang menginvestasikan banyak energi pada fase awal, tetapi tubuh manusia tidak dapat mempertahankan keadaan adrenalin tinggi untuk waktu yang lama, sehingga keadaan ini menjadi tak bisa dihindari.

Apa saja gejala kelelahan krisis?

Levounis mengatakan bahwa gejalanya bisa ke salah satu dari dua arah.

"Salah satunya adalah hiperarousal, atau kecemasan tinggi, keadaan di mana orang mudah tersinggung dan hal kecil apa pun dapat memicu mereka," katanya.

Di sisi lain, yang lebih parah dan juga kurang mudah didiagnosis adalah ketika seseorang mulai menarik diri.

Alih-alih merasakan kecemasan yang tinggi, mereka justru tidak menunjukkan kecemasan atau pasrah terhadap krisis dan tidak tampak khawatir tentang krisis atau situasi tersebut.

Baca juga: Minim Aktivitas Fisik Berisiko Memicu Depresi

"Mereka tidak menunjukkan kepedulian tentang hal-hal yang perlu dilakukan atau konsekuensi dari krisis,” kata Levounis.

Gejala lain antara lain perubahan pola tidur, perubahan nafsu makan, dan gangguan pada rutinitas normal seseorang.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Sumber Healthline
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X