BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Prove D3

Masih Pandemi, Jaga Kesehatan Jadi Harga Mati

Kompas.com - 14/09/2020, 16:33 WIB
Ilustrasi pelaksanaan tes usap PCR dalam hal pencegahan penularan Covid-19. SHUTTERSTOCK/De Pordee_AomboonIlustrasi pelaksanaan tes usap PCR dalam hal pencegahan penularan Covid-19.
|

KOMPAS.com - Hampir enam bulan virus corona mewabah di Indonesia dan belum ada tanda-tanda kondisi ini akan berakhir.

Menurut data per Kamis (10/9/2020), angka positif Covid-19 mencapai 207.203 kasus dengan jumlah pasien sembuh sebanyak 147.510 orang dan total kematian 8.456 jiwa.

Padahal, sehari sebelumnya, yakni Rabu (9/9/2020), kasus positif Covid-19 yang terkonfirmasi berjumlah 203.342 dengan total pasien sembuh mencapai 145.200 orang dan kematian sebanyak 8.336 jiwa.

Dengan demikian, pertambahan jumlah penderita Covid-19 dalam sehari mencapai 3.861 orang.

Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan menjadi provinsi dengan kasus positif terbanyak di Indonesia.

Lonjakan kasus positif Covid-19 di Tanah Air sendiri ditengarai karena masyarakat mulai abai menerapkan protokol kesehatan. Hal ini menyusul pemberlakuan fase adaptasi kenormalan baru.

Sebagian masyarakat menganggap penerapan fase tersebut merupakan fase kembali ke normal seperti sebelumnya. Padahal, Covid-19 belum sepenuhnya selesai.

Oleh karena itu, pemerintah daerah seperti Jakarta menarik rem darurat dan kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara ketat.

Menjaga kesehatan harga mati

Melihat fakta peningkatan kasus corona di Indonesia, urusan menjaga kesehatan menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi alias harga mati.

Selain disiplin menjalani protokol kesehatan, upaya menjaga kesehatan juga bisa ditempuh lewat konsumsi makanan bergizi seimbang, istirahat cukup, olahraga, dan berjemur.

Khusus berjemur, kegiatan ini memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat sejak awal pandemi. Pasalnya, tak sedikit ahli kesehatan menganjurkan masyarakat untuk melakukan aktivitas tersebut.

Sinar ultraviolet (UV), khususnya UV B, berkontribusi bagi pembentukan vitamin D dalam tubuh. Menukil Kompas.com, Sabtu (25/7/2020), ahli Alergi Imunologi Anak Indonesia Prof Dr Budi Setiabudiawan dr SpA(K) mengatakan, vitamin D memiliki dua fungsi, yaitu klasik dan nonklasik.

Fungsi klasik vitamin D, lanjut Budi, adalah memaksimalkan pembentukan tulang. Sementara itu, fungsi nonklasik nutrisi ini adalah menjaga fungsi hemeostasis imunitas atau sistem kekebalan tubuh.

" Vitamin D ini dapat memodulasi sistem kekebalan tubuh alamiah dan adaptif sehingga membantu mengatur sistem kekebalan tubuh," tambah Budi.

Seperti diketahui, sistem imunitas yang kuat akan melindungi tubuh dari berbagai risiko penyakit, termasuk Covid-19.

Untuk mendapatkan manfaat dari vitamin D, Budi menganjurkan agar berjemur di waktu yang tepat. “Sinar UVB pada rentang waktu 10.00 hingga 15.00 dengan durasi 10-20 menit,” katanya.

Cara lain mendapatkan vitamin D

Secara teori, kebutuhan vitamin D dapat dipenuhi dengan mudah lewat aktivitas berjemur pada waktu yang sudah disebutkan oleh Budi. Sayangnya, tak semua orang punya kesempatan untuk berjemur.

Meski demikian, masih ada cara lain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tersebut, yakni lewat konsumsi makanan dan suplemen.

Mengutip laman Healthline, setidaknya ada 10 makanan dengan kandungan vitamin D tinggi yang mudah dijumpai di pasaran. Contohnya, salmon, sarden, tuna, minyak ikan kod, kuning telur, jamur, susu sapi, susu kedelai, jeruk, sereal, dan oatmeal.

Untuk suplemen, menurut rilis Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang diberitakan Kompas.com, Selasa (9/6/2020), sebaiknya hanya dikonsumsi suplemen saat kebutuhan vitamin tidak terpenuhi lewat konsumsi makanan alami.

Guna berjaga-jaga, tak ada salahnya melengkapi kebutuhan harian dengan menyediakan suplemen vitamin D di rumah. Terlebih, saat ini suplemen vitamin D juga mudah didapat. Salah satunya Prove D3 dari Kalbe Farma.

Prove D3 mengandung vitamin D3 (cholecalciferol) yang disesuaikan dengan kebutuhan harian anak-anak maupun orang dewasa. Jika ingin mengonsumsinya, perhatikan dulu kebutuhan harian sesuai usia.

Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2019, kebutuhan vitamin D tiap orang berbeda-beda. Bayi berusia di bawah satu tahun membutuhkan vitamin D sebesar 400 IU per hari.

Bayi berusia di atas satu tahun, remaja, dewasa, serta ibu hamil dan menyusui membutuhkan vitamin D lebih banyak, yakni 600 IU per hari.

Untuk orang lanjut usia (lansia) atau di atas 65 tahun, kebutuhan vitamin D mereka mencapai 800 IU setiap harinya.

Pada beberapa kondisi tertentu, misalnya defisiensi, kebutuhan vitamin D dapat ditingkatkan berdasarkan kebutuhan atau kadar vitamin D dalam darah.

Seluruh kebutuhan harian tersebut dapat dipenuhi oleh suplemen Prove D3 yang tersedia dalam dua varian, yakni bentuk drops dengan kandungan vitamin D3 400 IU di tiap tetesnya dan tablet salut yang mengandung vitamin D3 mencapai 1.000 IU di tiap setrip.

Tak perlu khawatir dengan kandungan Prove D3. Pasalnya, suplemen ini bebas gluten, pewarna, dan alkohol, serta tidak berasa sehingga dapat dikonsumsi dengan cara dicampur ke dalam makanan atau minuman.

Dengan begitu, Prove D3 dapat Anda andalkan untuk memenuhi kebutuhan vitamin D harian, terlebih di masa pandemi ini. Untuk mendapatkan produk tersebut, silakan kunjungi tautan ini.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya