6 Tips untuk Orangtua Agar Tetap Sabar Dampingi Anak Saat Belajar

Kompas.com - 16/09/2020, 06:06 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Menghadapi sekolah daring tak hanya membuat sebagian anak menjadi stres, namun orangtua yang kini merangkap sebagai guru juga ikut mengalaminya.

Rasa stres menemani anak belajar ditakutkan akan menjadi emosi, yang bila tak terkendali bisa berujung pada kekerasan verbal hingga yang terburuk, kekerasan fisik pada anak.

Untuk menghindari hal itu, berikut enam tips untuk orangtua agar tetap sabar mengajari anak sekolah daring dari Psikolog Mario Manuhutu, M. Si.

1. Rutin mendampingi

Sekolah online memang berat, namun usahakan orangtua selalu mendampingi anak. Ayah dan ibu bisa membagi tugas pelajaran apa yang akan diajarkan ayah dan yang mana yang akan diajarkan oleh ibu.

2. Buat aturan main

Anak bisa kita beri aturan main saat belajar. Ajarkan anak tentang rutinitas, pukul berapa ia harus belajar, pukul berapa dia bermain, dan juga kapan harus mengerjakan tugas dari sekolah.

Waktu untuk belajar bersama orangtua juga harus diatur, sehingga tidak akan mengganggu perkerjaan orangtua yang mungkin sekarang sedang bekerja dari rumah.

Sepakati waktu bersama dan komitmen menjalaninya.

“Pada jam yang sudah disepakati, orangtua jangan bikin meeting. Kalau bentrok dengan meeting, cari waktu lain dan komitmen, orangtua enggak boleh kerja dan anak juga enggak boleh bermain,” kata Mario kepada Kompas.com saat dihubungi, Selasa (15/9/2020).

Baca juga: Serba dari Rumah, Begini Tips supaya Kegiatan Belajar Anak Bisa Efektif, Orangtua Tetap Produktif

3. Beri anak hadiah

Untuk anak usia pra sekolah, TK atau SD kelas 1, mengajak mereka sekolah daring dan mengerjakan tugas mungkin menjadi hal yang sulit.

Orangtua bisa memberikan hadiah pada anak bila mereka mampu menyelesaikan tugas dan mengikuti sekolah daring hingga waktu yang ditentukan.

“Bisa kasih hadiah waktu main video game sedikit lebih lama, atau berikan makanan kecil favoritnya,” ujar Mario lagi.

4. Turunkan ekspektasi

Di masa pandemi, rasa stres juga dialami oleh anak. Dimana anak tak bisa bebas bermain dan ruang geraknya tentu dibatasi demi menjaga kesehatan.

Untuk itu, orangtua diminta untuk tak menekankan pada anak untuk harus berprestasi atau meminta mereka belajar terlalu keras seperti saat sebelum pandemi.

“Kita harus punya pikiran baru, enggak bisa semua ideal, ini kan keadaan enggak normal, jadi kita tidak bisa berharap akan normal,” ujar Mario.

“Kalau enggak belajar menerima, bisa saja hasil yang kita dapatkan enggak ideal, bukan enggak mau, tapi anak sudah maksimal,” imbuhnya.

Menurunkan ekspektasi juga akan berpengaruh pada penurunan kecemasan orangtua. Hal ini akan berpengaruh pada kesehatan mental orangtua yang akan terjaga dengan baik.

5. Kerjakan yang bisa dikerjakan

Menghadapi materi pengajaran dari sekolah untuk anak yang terkesan menumpuk, akan membuat orangtua kewalahan.

Mario mengatakan, agar tak kesulitan menyelesaikan semua materi sekaligus, orangtua dan anak dihimbau untuk menyelesaikan tugas secara bertahap.

“Misalnya anak dua minggu lagi ujian, apa yang bisa kita lakukan, ya sudah biarkan dia belajar satu materi, dicicil, enggak perlu banyak-banyak,” ujar Mario.

Hal ini akan membuat anak dan orangtua terhindar dari kecemasan tugas dan materi yang menumpuk karena kurangnya waktu untuk menyelesaikannya.

Baca juga: 4 Tips Bikin Suasana Belajar Online Jadi Happy untuk Anak

6. Kelola emosi

Yang paling penting dari kesemuanya adalah orangtua dan anak harus sama-sama belajar mengelola emosi.

Terutama untuk orangtua yang tak bisa mengelola emosi dengan baik, akan berakibat pada buruknya hubungan orangtua dan anak.

Emosi orangtua yang tak terkelola dengan baik akan membuat kita lepas kendali. Hal-hal buruk pun bisa terjadi, seperti mengeluarkan kata-kata kasar yang akan berpengaruh pada psikologis anak dan yang terburuk, kekerasan fisik.

Di sisi lain, orangtua juga harus menjadi contoh yang baik bagi anak tentang bagaimana mengelola emosi dengan baik.

“Anak kan lihat kita, anak juga belajar dari apa yang dia lihat,”ujarnya.

Mengelola emosi bisa dilakukan orangtua sebelum berinteraksi dengan anak, atau ketika tengah berinteraksi yang menguras emosi. Orangtua dihimbau untuk berhenti sejenak, melepaskan stres dengan cara-cara sederhana.

“Tarik nafas dulu, cuci muka misalkan. Habis meeting satu jam kalo suasana hati tidak nyaman, jangan langsung ketemu anak, minum teh dulu, melihat luar dulu, baru kembali lagi,” ujarnya.

Hal ini dilakukan untuk melindungi anak dari kekerasan verbal maupun fisik yang bisa saja terjadi karena orangtua tak bisa mengelola emosi dengan baik.

“Bahwa ketika kita bentak, kita sudah marah, menghardik atau dengan kata-kata yang volumenya keras, nada tinggi, pasti dia kaget,” ujar Mario.

“Anak jadi stres, dibawa dalam situasi yang selalu siaga. Kalau enggak, responnya nangis atau kabur, atau dia ikutan marah juga,” imbuh Mario.

Baca juga: Kasus Ibu Bunuh Anak karena Susah Belajar Online, Apa Kata Psikolog?



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X