Studi: Pria dengan Penghasilan Tinggi Rentan Alami Hipertensi

Kompas.com - 21/09/2020, 12:31 WIB
Ilustrasi pria kaya beer5020Ilustrasi pria kaya
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Memperoleh penghasilan tinggi tentu jadi impian banyak orang. Namun terkadang, memiliki banyak uang bisa mendatangkan banyak masalah.

Hal itu antara lain disebutkan dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Jepang baru-baru ini.

Mereka menemukan, pria dengan penghasilan tinggi mempunyai risiko dua kali lipat untuk mengalami tekanan darah tinggi.

Penelitian yang dipresentasikan di Annual Scientific Meeting of the Japanese Circulation Society ke-84 ini meninjau kaitan antara penghasilan dan tekanan darah pada 4.314 karyawan.

Ketika pertama kali diteliti pada 2012, seluruh peserta memiliki tekanan darah normal.

Peneliti membagi penghasilan tahunan pekerja ke dalam empat kelompok, yaitu kurang dari 48.000 dollar AS (sekitar Rp 704 juta), 48.000-76.500 dollar AS (Rp 704 juta - Rp 1,1 miliar), 76.500-95.500 dollar AS (Rp 1,1 miliar - Rp 1,4 miliar), dan lebih dari 95.500 dollar AS.

Selama dua tahun, peneliti menemukan pria yang berpenghasilan lebih dari 95.500 dollar AS per tahun berisiko dua kali lipat terkena tekanan darah tinggi dibandingkan pria dengan penghasilan kurang dari 48.000 dollar AS per tahun.

Pria dengan penghasilan sedang masih berpeluang mengalami tekanan darah tinggi, tetapi hanya sekitar 50 persen.

Baca juga: Apakah Olahraga Bisa Menurunkan Tekanan Darah?

Menurut salah satu penulis penelitian, Shingo Yanagiya, tekanan darah tinggi adalah penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup.

"Sebagai dokter yang menangani pasien ini, saya ingin tahu apakah risiko tekanan darah tinggi bervariasi pada tiap kelas sosial ekonomi untuk membantu kami memfokuskan upaya pencegahan."

Menurut American Heart Association, tekanan darah tinggi yang tidak terkendali dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan.

Gangguan kesehatan itu meliputi serangan jantung, stroke, gagal jantung, penyakit ginjal atau gagal ginjal, kehilangan penglihatan, disfungsi seksual, angina (nyeri dada akibat kurangnya aliran darah ke jantung), dan penyakit arteri perifer (arteri menyempit atau tersumbat).

Tekanan darah tinggi juga dikenal sebagai silent killer karena banyak orang tidak mengalami gejala apapun yang menunjukkan kondisi kesehatan mereka sedang menurun.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari satu miliar orang di dunia menderita tekanan darah tinggi.

Penyakit tersebut juga merupakan salah satu penyebab utama kematian dini di seluruh dunia, di mana sekitar delapan juta orang meninggal dunia setiap tahunnya.

Uniknya, wanita dengan penghasilan tinggi dalam penelitian tersebut cenderung memiliki risiko lebih rendah untuk tekanan darah tinggi dibanding pria, menurut para peneliti.

"Pria dengan penghasilan yang tinggi lebih cenderung menjadi gemuk dan minum alkohol setiap hari. Kedua hal itu merupakan faktor risiko utama untuk hipertensi," kata Yanagiya.

Hal lain yang mungkin juga menjadi penyebab adalah, para pria dengan penghasilan lebih tinggi, umumnya memiliki tanggungjawab lebih terhadap perusahaannya, sehingga tekanan stresnya lebih besar.

Yanagiya menganjurkan agar kaum pria mulai mengendalikan gaya hidup mereka dengan membatasi konsumsi alkohol pada tingkat sedang dan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, mengontrol berat badan, dan mengendalikan stres.

Baca juga: Tekanan Darah Tinggi? Ubahlah Gaya Hidup



Sumber MSN
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X