Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
drg. Citra Kusumasari, SpKG (K), Ph.D
dokter gigi

Menyelesaikan Program Doktoral di bidang Kariologi dan Kedokteran Gigi Operatif (Cariology and Operative Dentistry), Tokyo Medical and Dental University, Jepang.

Sebelumnya, menempuh Pendidikan Spesialis Konservasi Gigi di Universitas Indonesia, Jakarta dan Pendidikan Dokter Gigi di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Berpraktik di berbagai rumah sakit dan klinik di Jakarta. Ilmu karies, estetik kedokteran gigi, dan perawatan syaraf gigi adalah keahliannya.

Material Terkini untuk Penambalan Gigi Berlubang di Jepang

Kompas.com - 23/09/2020, 19:10 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Meski pun sistem asuransi telah berkontribusi pada kemudahan akses perawatan gigi bagi populasi usia dewasa, namun proporsi kunjungan rutin ke klinik gigi tidak tinggi.

Oleh karena itu, kelompok usia ini masih perlu didorong untuk mengunjungi dokter gigi secara teratur untuk mencegah penyakit gigi.

Jepang dikenal sebagai negara yang banyak memiliki masyarakat dengan usia sangat lanjut atau “super aging society”.

Pada tahun 1989, Kementerian Kesehatan dan Asosiasi Kedokteran Gigi Jepang membuat kampanye nasional bertajuk kampanye delapan puluh-dua puluh atau “8020 (Eighty-Twenty) Campaign”.

Baca juga: Resep Panjang Umur dari Orang Tertua di Dunia

 

Angka 80 menandakan angka harapan hidup rata-rata orang Jepang saat itu, dan angka 20 mengindikasikan angka kiritis dari jumlah gigi asli yang diharapkan masih tetap ada, yang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup melalui makan dan mengunyah.

Perawatan Gigi Berlubang di Jepang
Pedoman perawatan gigi berlubang dilakukan berdasarkan kedalaman gigi berlubang tersebut.

Dalam melakukan penentuan lokasi dan luasnya gigi berlubang, selain dilakukan pemeriksaan secara klinis setelah gigi dibersihkan dan dikeringkan.

Juga dilakukan pemeriksaan faktor risiko terjadinya gigi berlubang pada pasien, serta pemeriksaan foto radiografis untuk mengetahui gigi berlubang yang tidak terlihat secara klinis.

Setelah mengetahui diagnosis gigi berlubang tersebut, maka dilakukan pembuangan jaringan gigi yang terinfeksi dengan menggunakan material pewarna untuk bagian gigi yang terinfeksi atau dikenal dengan “caries detector dyes”.

Pada kasus gigi berlubang yang cukup dalam, namun belum mencapai ruang saraf gigi maka dilakukan penambalan menggunakan bahan tambal dan sistem adhesif (sistem perekat) self-etch.

Baca juga: Cegah Gigi Berlubang, Sikat Gigi Saja Tidak Cukup

Material terkini untuk penambalan gigi berlubang di Jepang

Dalam melakukan penambalan gigi, bahan tambal komposit sewarna gigi memerlukan bahan perantara untuk merekatkan ke lapisan gigi.

Bahan tersebut disebut sistem perekat gigi, yang berfungsi mengondisikan gigi supaya gigi siap menempel dengan bahan tambal gigi. Salah satu jenis sistem perekat gigi adalah self-etch satu langkah yang menggunakan monomer kimia asam, tanpa harus dibilas air setelah pengaplikasiannya.

Sistem ini adalah sistem perekat terbaru yang berkembang di Jepang. Sistem perekat ini begitu populer karena dapat menghemat waktu perawatan, mengurangi rasa sensitif gigi pada saat dilakukan penambalan, dan kekuatan rekatnya ke gigi juga sangat baik.

Setelah diaplikasikan bahan perekat gigi, selanjutnya adalah menempatkan bahan tambal gigi.

Baca juga: Kenali Penyebab dan Tanda Gigi Berlubang pada Anak

 

Halaman Berikutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com