Kompas.com - 24/09/2020, 09:30 WIB
ilustrasi face shield (penutup wajahP untuk terhindar dari paparan virus corona penyebab Covid-19. SHUTTERSTOCK/pixflyilustrasi face shield (penutup wajahP untuk terhindar dari paparan virus corona penyebab Covid-19.
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Sebuah simulasi yang dilakukan di Jepang menemukan bahwa face shield plastik hampir tidak efektif menahan aerosol respirasi.

Temuan tersebut menimbulkan keraguan akan efektivitas face shield dalam mencegah penyebaran virus corona.

Simulasi dilakukan menggunakan Fugaku, superkomputer tercepat di dunia, dan menemukan bahwa hampir 100 persen tetesan udara berukuran kurang dari 5 mikrometer lolos melalui pelindung plastik tersebut. Satu mikrometer sendiri adalah sepersejuta meter.

Selain itu, menurut Riken, sebuah lembaga penelitian yang didukung pemerintah di kota barat Kobe, sekitar setengah dari tetesan yang lebih besar berukuran 50 mikrometer punya jalan untuk menyatu dengan udara.

Mengapa temuan ini menjadi penting? Sebab, masyarakat terus diimbau untuk rajin mencuci tangan, namun transmisi aerosol masih belum begitu diperhatikan.

Face shield kini digunakan oleh sebagian orang di ruang publik, namun tidak semua pengguna face shield juga menggunakan masker.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Face Shield Tanpa Masker Tak Efektif Melindungi Diri dari Virus Corona

Makoto Tsubokura, ketua tim di pusat ilmu komputasi Riken, mengatakan simulasi tersebut menggabungkan aliran udara dengan reproduksi puluhan ribu tetesan dengan ukuran berbeda, mulai di bawah 1 mikrometer hingga beberapa ratus mikrometer.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak memakai face shield sebagai alternatif masker. Sebab, hasil simulasi menunjukkan kemampuan face shield sangat terbatas dalam melindungi penggunanya dari penyebaran virus, terutama berlaku untuk tetesan kecil kurang dari 20 mikrometer.

"Semua partikel aerosol yang jauh lebih kecil dapat keluar melalui celah antara wajah dan pelindung wajar."

"Namum di saat yang sama, terkadang face shield dapat menahan tetesan berukuran lebih besar dari 50 mikrometer," ungkapnya.

Tsubokura menyarankan face shield hanya digunakan oleh orang-orang yang disarankan tidak memakai masker, seperti orang dengan masalah pernapasan dan anak kecil.

Tetapi, mereka juga disarankan hanya menggunakannya di luar ruangan atau di dalam ruangan dengan ventilasi baik.

Baca juga: Face Shield atau Masker, Mana Lebih Efektif Tangkal Covid-19?

Adapun Fugaku sendiri dapat melakukan lebih dari 415 kuadriliun komputasi per detik, dan belum lama ini menemukan bahwa masker wajah yang terbuat dari kain bukan tenunan lebih efektif dalam memblokir penyebaran Covid-19 melalui tetesan udara, daripada yang terbuat dari katun dan poliester.

Superkomputer seharga 130 miliar Yen (sekitar Rp 18,38 triliun) itu juga pernah menjalankan simulasi tentang bagaimana tetesan pernapasan menyebar di ruang kantor dengan dipartisi dan di kereta yang penuh sesak ketika jendela gerbong terbuka.

Meski tidak akan beroperasi penuh hingga tahun depan, para ahli berharap Fugaku dapat membantu mengidentifikasi pengobatan untuk Covid-19 dari sekitar 2.000 obat yang ada, termasuk yang belum mencapai tahap uji klinis.

Baca juga: Dari Berbagai Jenis Masker, Ini Masker Terbaik untuk Cegah Covid-19



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.