Protokol Kesehatan: Antara Jargon dan Guyon

Kompas.com - 24/09/2020, 19:45 WIB
Ilustrasi masker anak shutterstockIlustrasi masker anak

 

Kemudian, menjaga jarak aman. Bukan rahasia umum lagi: ini protokol yang paling mudah dilanggar.

Tidak banyak yang menyadari, jarak aman itu bukan sekadar bebas 1.5 meter ke kiri dan bebas 1.5 meter ke kanan, tapi juga jarak yang sama berlaku untuk orang di depan dan belakang kita.

Ibaratnya, saya menjadi poros dan 1.5 meter adalah jari-jari lingkaran ‘bebas manusia lain’ di sekeliling saya.

Jadi, protokol kesehatan yang satu ini mustahil diterapkan di mana pun. Apalagi, di kota padat penduduk.

Mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, dari sekian banyak pos yang pernah saya amati dari kejauhan, hampir semua tempat ‘ada masalahnya’.

Pertama, antrian mencuci tangan saja sudah kurang dari 1.5 meter. Itu mirip seperti simulasi pembukaan sekolah yang pernah ada di televisi.

Baca juga: Masker Scuba Hanya Beri Keamanan Semu

Di kelas duduk berjauh-jauhan, giliran cuci tangan, murid-murid bersenggolan dan cekikikan berkerumun di sekitar keran.

Belum lagi tentang 6 langkah cuci tangan, tidak semua orang paham. Jadi mencuci tangan lagi-lagi hanya formalitas. Pun setelah cuci tangan, keran ditutup menggunakan tangan yang diandaikan sudah ‘bebas kuman’ – sementara kerannya tidak. Kontaminasi lagi.

Atau mengeringkan tangan dengan tidak benar. Lebih celaka lagi, habis cuci tangan, kembali terkontaminasi, karena memegang berbagai benda yang disentuh bersama.
Pelanggaran protokol kesehatan juga diam-diam terjadi pada orang-orang yang mengawasi dan yang memberi sanksi.

Marahnya publik dan kekecewaan pakar kian memuncak saat sanksi hanya berupa kekonyolan guyon. ‘Hukuman’ joget atau push up yang sama sekali tidak membuat orang paham, apalagi bersifat mendidik.

Penerapan aturan di negeri ini masih seperti taman kanak-kanak yang siswanya belum dewasa, belum cukup umur, belum mempunyai kematangan otak depan – prefrontal korteks – yang bisa membedakan antara baik buruk dan benar salah.

Baca juga: Pulih dari Pandemi: Saatnya Berubah atau Punah

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X