BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Prodia

Mindful Eating Kunci Sukses Diet, Pahami Cara Melakukannya...

Kompas.com - 27/09/2020, 08:46 WIB
Ilustrasi emotional eating Dok. ShutterstockIlustrasi emotional eating

KOMPAS.com - Makan adalah rutinitas harian kita. Sayangnya, banyak pula dari kita yang belum sadar tentang apa dan berapa banyak jumlah makanan yang konsumsi dalam satu hari.

Padahal, mudah dipahami bahwa makan secara berlebihan bisa mengganggu kesehatan.

"Selama pandemi, saya lihat industri makanan lokal semakin berkembang. Kita bisa melihatnya di media sosial, seperti Instagram, orang-orang mulai memanfaatkan media sosial untuk berjualan makanan."

Baca juga: Mindful Eating, Rahasia Diet Sukses Tanpa Harus Kelaparan

Begitu kata Dinda Utami, Fitness Trainer dan NLP Licensed Practicioner, dalam program " Mindful Eating: Apa dan Bagaimana Penerapannya" yang diadakan Fit Nest secara virtual pada Sabtu (26/9/2020).

Fit Nest adalah adalah Functional Fitness Gym di Kota Bogor, yang di masa pandemi ini banyak menggelar kelas kebugaran secara online

Dinda lalu mengatakan, menyusul pengetatan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta, orang-orang juga menjadi lebih terbatas dalam bergerak.

"Tiga sampai enam bulan ini, kita melakukan overeating. Makan berlebihan, dan berat badan kita menjadi naik."

"Akhirnya kita stres dan memutuskan untuk diet karena kebanyakan ngemil dan tidak berolahraga," ucap dia.

Namun sebagian orang yang menjalani diet, lanjut Dinda, tidak selalu berhasil.

Baca juga: Awas, Stres Picu Emotional Eating

Dalam hal ini, Dinda menjelaskan, alasan seseorang gagal dalam dietnya adalah karena mereka menganggap diet sebagai sesuatu yang wajib dilakukan selama waktu tertentu.

Hal itu dilakukan untuk tujuan tertentu -misalnya menurunkan berat badan.

"Diet itu mengacu pada kebiasaan makan seseorang. Makanya, harus kita luruskan dulu. Diet adalah overall eating habits, yang sifatnya tidak mengekang."

Anggapan umum terkait diet (diet mentality) disebutkan oleh Dinda, antara lain:

- Minum air putih untuk mengurangi rasa lapar

- Melewatkan makan malam

- Terobsesi menghitung kalori

- Melabeli suatu makanan sebagai makanan baik atau jahat

- Mempunyai konsep karbohidrat adalah musuh

- Merasa bersalah setelah makan

"Jika kita melihat diet sebagai sesuatu untuk menurunkan berat badan, maka diet akan terasa melelahkan."

Baca juga: "Emotional Eating", Makan Banyak Bukan karena Lapar

"Batasan atau restriction yang banyak membuat kita semakin terobsesi dengan makanan, dan konsumsi makanan kita menjadi tidak terkendali setelah diet berakhir," tutur Dinda.

Konsumsi makan yang tidak terkendali, atau emotional eating,juga  perlu dikenali terlebih dahulu penyebabnya.

Menurut Dinda, merespons emosi dengan mengonsumsi makanan tidak sepenuhnya salah.

Namun, ada baiknya kita mengetahui apa emosi yang kita rasakan saat memutuskan untuk makan berlebihan.

"Perlu dilihat, apakah setiap bentuk emosi kita respons dengan makanan?"

"Jangan sampai kita tidak paham apa yang bikin kita emosi, sehingga menjadikan makan sebagai solusi satu-satunya," cetus dia.

"Jika kita selalu merespons emosi dengan makan, akhirnya kita jadi emotional eater."

"Permasalahan yang kita alami bukannya selesai, berat badan justru naik," kata dia.

Dinda mencontohkan, di masa PSBB seperti sekarang, dia merasakan ketakutan dan tidak aman karena mengetahui banyak teman terinfeksi Covid-19, bahkan beberapa di antara mereka meninggal dunia.

" Pandemi bikin saya takut, feeling unsafe, dan mendengar teman atau kerabat saya meninggal karena Covid-19 bikin saya marah."

"Terkadang perasaan emosi seperti itu saya luapkan dengan makan. Tapi untuk merespons rasa bosan, kita juga bisa mencari kegiatan lain."

Jika kita merasa emosi dan ingin meluapkannya dengan mengonsumsi makanan, Dinda kembali mengingatkan agar kita mengidentifikasi apa emosi yang kita rasakan.

Baca juga: Punya Banyak Dampak Buruk, Ini 4 Cara Atasi Emotional Eating

Lalu, akan sangat baik jika kita kemudian mencari tahu penyebabnya.

Sehingga, kunci untuk setiap pola makan atau diet adalah mindful eating, yaitu memperhatikan jenis dan jumlah porsi makanan yang disantap. Tanpa lupa memerharikan emosi dan isyarat lainnya ketika makan.

Mindful eating dapat dipraktikkan jika kita mau belajar untuk memperhatikan mulai dari bentuk, warna, tekstur, aroma, bunyi, serta rasa makanan yang kita santap.

"Biasanya karena kita sibuk dan buru-buru, kita tidak sempat memerhatikan dan malah tidak ingat apa yang kita makan," ujar dia.

"Jika kita bisa menikmati makanan secara penuh dan sadar, maka tidak ada namanya kita ambil donat kedua, ketiga, dan seterusnya," kata dia.

Untuk menerapkan mindful eating, kita perlu mengambil napas dalam dan berdoa sebelum makan.

Setelah itu, kita membagi porsi makanan menjadi setengah dari porsi biasanya.

"Jangan lupa mindful eating. Perhatikan segala hal yang ada pada makanan kita," kata dia.

"Kalau sudah selesai makan, tentukan apakah kita masih lapar atau sudah kenyang. Jika mau makan lagi, makanlah dalam porsi setengah dan tetap eat mindfully," ungkap Dinda.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya