Kerusakan Jantung pada Pengidap Covid-19, Apa Penjelasannya?

Kompas.com - 27/09/2020, 21:00 WIB
Ilustrasi serangan jantung Dok. ShutterstockIlustrasi serangan jantung

Sebuah studi yang diterbitkan di JAMA Network Open pada Juli 2020 menemukan, kejadian stres kardiomiopati terjadi hampir tiga kali lipat selama pandemi.

Biasanya, rasio kejadian berkisar antara 1,5-1,8 persen, namun selama pandemi melonjak menjadi 7,8 persen.

- Serangan jantung:

Covid-19 meningkatkan kemungkinan mengalami apa yang dikenal sebagai infark miokard atau serangan jantung, pada pasien dengan faktor risiko kardiovaskular.

- Aritmia

Detak jantung tidak teratur sebagian besar bersifat jinak, hanya menyebabkan palpitasi, kata Cingolani. Tapi bisa juga parah.

Baca juga: Detak Jantung Terlalu Lambat, Perlukah Khawatir?

Pencegahan

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, batasi paparan diri terhadap virus dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

Misalnya dengan melakukan pembatasan sosial, mengenakan masker, dan menjauhi kerumunan.

Jika merasa mungkin telah terpapar virus, cobalah kenali apa yang dirasakan dalam tubuh.

Jika energi turun atau bernapas lebih sulit daripada biasanya selama aktivitas normal, hubungilah dokter.

Beberapa obat-obatan dapat membantu mengurangi radang jantung.

Ketika kita memeriksakan diri ke dokter, dokter mungkin akan menyarankan untuk menghindari olahraga berat selama beberapa bulan.

Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X