Kerusakan Jantung pada Pengidap Covid-19, Apa Penjelasannya?

Kompas.com - 27/09/2020, 21:00 WIB
Ilustrasi serangan jantung Dok. ShutterstockIlustrasi serangan jantung

KOMPAS.com - Ketika pandemi Covid-19 muncul, para pakar meyakini infeksi ini utamanya menyerang organ paru-paru.

Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jumlah pengidap, para pakar menyadari hal lain.

Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan di bulan Juni 2020 di Heart Rhythm, sebanyak 20-30 persen peasien Covid-19 di rumah sakit ternyata menunjukkan tanda-tanda kerusakan jantung.

Saat itu, para peneliti menganggap, kerusakan jantung memang bisa terjadi pada pasien dengan kondisi parah. Namun, kini ada gambaran yang lebih jelas mengenai itu.

Baca juga: Olahraga yang Aman bagi Penderita Penyakit Jantung

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada September 2020 di JAMA Cardiology menunjukkan jawabannya. 

Disebutkan, virus tersebut memang dapat membahayakan jaringan jantung, bahkan pada mereka yang memiliki gejala ringan, atau tidak bergejala sama sekali.

Meskipun terlalu dini untuk memastikannya, sebuah penelitian yang diterbitkan di JAMA Cardiology edisi Juli 2020 menunjukkan, kerusakan tersebut mungkin saja terjadi secara permanen.

“Virus ini menginfeksi hampir setiap organ dalam tubuh, dan jantung tidak terkecuali.”

Demikian penjelasan Direktur Program Hipertensi dan Profesor Kedokteran di divisi kardiologi Rumah Sakit Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Amerika Serikat, Oscar Cingolani, seperti dilansir the Healthy.

Lantas, apa penyebabnya? Tentu saja, peradangan.

Peradangan jantung

Miokarditis atau radang otot jantung dapat melemahkan dan merusak sistem "kelistrikan" jantung.

Kondisi itu akan membuat jantung lebih sulit untuk memompa darah dan menyebabkan irama jantung yang tidak normal.

Miokarditis bukanlah kondisi baru, melainkan bisa juga disebabkan oleh virus seperti flu, juga bakteri, jamur, atau penyakit autoimun.

Baca juga: Gaya Hidup yang Menyehatkan Jantung Juga Mencegah Gangguan Mata

"Yang menjadi semakin jelas adalah bahwa virus corona dapat menginfeksi jantung seperti infeksi lain,” kata Cingolani.

" Jantung juga bisa rusak akibat peradangan yang diproduksi tubuh untuk melawan infeksi tersebut."

Pada sebuah penelitian yang dirilis di JAMA Cardiology September 2020, para peneliti melakukan screening terhadap 26 atlet perguruan tinggi yang telah pulih dari Covid-19.

Pada empat atlet, MRI menunjukkan adanya radang otot jantung. Namun, dua di antaranya tidak mengalami gejala Covid-19.

“Kami belum mengetahui konsekuensi jangka panjangnya. Tapi penting bagi kita untuk memperhatikan orang-orang yang terlibat dalam olahraga dan mengikuti mereka," kata  Cingolani.

Akibat kerusakan

Covid-19 juga merusak sel endotel atau sel permukaan halus yang menciptakan penghalang di dalam pembuluh darah untuk mengalir.

“Ketika sel-sel ini terinfeksi, sejumlah mekanisme perlindungan menjadi terganggu,” kata Cingolani.

Akibatnya, darah berpotensi menggumpal di arteri kecil dan dapat menyebabkan bekas luka kecil serta area peradangan atau bahkan serangan jantung.

Sementara gumpalan di arteri paru-paru dapat menghilangkan oksigen dari jantung.

Baca juga: Pahami, Tidur Siang Kelamaan Bisa Picu Penyakit Jantung

Beberapa kerusakan lain yang mungkin ditimbulkan karena terinfeksi Covid-19, antara lain:

- Kardiomiopati

Kardiomiopati atau kelainan otot jantung memengaruhi kemampuan jantung untuk memompa darah secara efektif.

Cingolani menjelaskan, saat terserang virus, tubuh mengalami stres dan melepaskan lonjakan zat kimia yang disebut katekolamin.

Kondisi tersebut dapat membuat jantung "pingsan".

Meski bersifat sementara, kondisi itu juga bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan tepat.

Sebuah studi yang diterbitkan di JAMA Network Open pada Juli 2020 menemukan, kejadian stres kardiomiopati terjadi hampir tiga kali lipat selama pandemi.

Biasanya, rasio kejadian berkisar antara 1,5-1,8 persen, namun selama pandemi melonjak menjadi 7,8 persen.

- Serangan jantung:

Covid-19 meningkatkan kemungkinan mengalami apa yang dikenal sebagai infark miokard atau serangan jantung, pada pasien dengan faktor risiko kardiovaskular.

- Aritmia

Detak jantung tidak teratur sebagian besar bersifat jinak, hanya menyebabkan palpitasi, kata Cingolani. Tapi bisa juga parah.

Baca juga: Detak Jantung Terlalu Lambat, Perlukah Khawatir?

Pencegahan

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, batasi paparan diri terhadap virus dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

Misalnya dengan melakukan pembatasan sosial, mengenakan masker, dan menjauhi kerumunan.

Jika merasa mungkin telah terpapar virus, cobalah kenali apa yang dirasakan dalam tubuh.

Jika energi turun atau bernapas lebih sulit daripada biasanya selama aktivitas normal, hubungilah dokter.

Beberapa obat-obatan dapat membantu mengurangi radang jantung.

Ketika kita memeriksakan diri ke dokter, dokter mungkin akan menyarankan untuk menghindari olahraga berat selama beberapa bulan.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X