9 Penyebab Rasa Haus yang Tak Kunjung Hilang

Kompas.com - 28/09/2020, 09:41 WIB
Ilustrasi minum dengan sedotan shutterstockIlustrasi minum dengan sedotan

KOMPAS.com - Minum adalah cara untuk menghilangkan rasa haus.

Merasa sangat haus adalah hal wajar untuk beberapa kondisi, misalnya setelah kita beraktivitas di bawah sinar matahari atau seusai berolahraga.

Namun, rasa haus yang tak kunjung hilang juga bisa menjadi sinyal kondisi kesehatan lainnya.

Kebutuhan air setiap orang berbeda, namun pedoman Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa idealnya setiap hari kita minum sekitar delapan gelas sehari (ukuran 230ml) atau total dua liter.

Baca juga: Merasa Sangat Haus? 3 Hal Ini Bisa Jadi Penyebabnya

Selain lewat air, makanan juga bisa menyumbang cairan tubuh sekitar 20 persen. Asupan cairan bisa diperoleh lewat buah dan sayuran, terutama bayam dan semangka.

Nah, jika kita masih merasa haus luar biasa meskipun merasa sudah minum cukup, beberapa kondisi berikut mungkin bisa menjadi penyebabnya.

1. Memulai aktivitas baru

Kebanyakan orang tidak menakar berapa banyak air yang diminumnya dalam sehari. 

Lalu, mereka tidak menyadari adanya perubahan cuaca, perubahan aktivitas olahraga, hingga perubahan aktivitas harian, seperti pekerjaan.

Itu semua bisa memengaruhi pola konsumsi cairan.

Oleh karena itu, cobalah mengevaluasi kebutuhan cairan kita, jika mengalami gejala berikut:

- Keringat berkurang.

- Produksi urin berkurang.

- Mengalami masalah elastisitas kulit.

- Kebingungan, pening, atau pingsan.

Baca juga: Gampang Haus Bisa Jadi Ciri Diabetes

Konsultasikan dengan dokter untuk memastikan apakah gejala tersebut memang berkaitan dengan masalah medis, atau tidak.

2. Memulai pola makan baru

Ahli gizi dari the Good Housekeeping Institute, Stefani Sassos menjelaskan, secara umum pola makan rendah karbohidrat atau diet keto memiliki risiko dehidrasi yang lebih besar.

Alasannya, karbohidrat menahan cairan dan elektrolit.

Jadi, ketika kita secara drastis mengurangi jumlah karbohidrat maka dapat mengakibatkan kelebihan air yang dikeluarkan melalui urin, atau lebih sering pergi ke kamar mandi.

Dengan demkian, jika kita baru menjalani pola makan baru yang secara drastis mengurangi kelompok makanan tertentu, tetaplah fokus memenuhi kebutuhan cairan harian.

Melihat warna urin juga bisa menjadi cara untuk mengetahui apakah tubuh mengalami dehidrasi.

3. Makan terlalu banyak garam

Internis yang juga asisten profesor kedokteran klinis di Rutgers New Jersey Medical School, Ron Weiss menjelaskan, ginjal memproses kelebihan garam, dan akan mengalihkannya ke urin.

Pada akhirnya akan menarik cairan dari darah. "Dan kemudian kita akan buang air kecil secara berlebihan," ungkap Weiss.

Proses ini dapat terjadi hanya dalam beberapa jam jika kita makan makanan tinggi sodium.

Weiss menambahkan, otak kita kemudian akan memberi sinyal haus untuk kembali mendapatkan air.

Jika makan makanan tinggi natrium terlalu sering, tubuh bisa mengalami dehidrasi kronis dan berpotensi membuat kita mengalami darah tinggi.

Bahkan ada risiko kerusakan ginjal atau jantung dalam jangka panjang.

4. Mengira lapar, padahal haus

Kita sering salah menduga bahwa rasa lapar yang kita rasakan sebetulnya adalah rasa haus. Apakah berlaku sebaliknya?

Menurut Sassos, banyak gejala dehidrasi seperti kelelahan dan pusing juga mirip dengan rasa lapar.

Oleh karena itu, penting untuk mendengarkan tubuh untuk mengetahui apa yang dibutuhkannya.

5. Mulut kering

Weiss mengatakan, asupan kafein, merokok serta antihistamin yang dijual bebas atau obat flu, dapat memperburuk kasus mulut kering.

Baca juga: Tanda Dehidrasi Tak Cuma Haus

Para ahli medis di Mayo Clinic mengatakan, selain memperbanyak minum, mereka yang menderita mulut kering juga bisa mengunyah permen karet bebas gula untuk merangsang air liur.

Beberapa obat-obatan juga dapat membantu meredakan mulut kering jika tidak satu pun dari solusi ini berhasil.

6. Prediabetes atau diabetes tipe 2

Sebagian besar, diabetes tipe 2 atau dikenal sebagai diabetes mellitus terjadi karena ginjal berada di bawah tekanan lebih untuk menyerap kelebihan glukosa.

Weiss menjelaskan, ketika ginjal tidak dapat mengimbangi, glukosa berakhir dibuang melalui urin dan menyeret air bersamanya.

Itulah mengapa kondisi ini juga bisa membuat seseorang merasa sangat dehidrasi.

7. Mengonsumsi sumber diuretik

Makanan diuretik, seperti seledri atau asparagus, dapat membuat kita haus karena mendorong lebih banyak buang air kecil daripada biasanya.

Sassos menjelaskan, minuman berkafein diketahui bersifat diuretik ringan, dan jika kita minum terlalu banyak kopi atau soda sepanjang hari, minuman itu dapat memicu rasa haus bawaan.

"Saya merekomendasikan tidak lebih dari 400mg kafein setiap hari untuk orang dewasa yang sehat, atau kurang, jika kamu sensitif terhadap kafein seperti saya," kata dia.

8. Organ tubuh tidak bisa memproses cairan

Kelebihan cairan adalah masalah nyata, meskipun kurang umum karena ginjal normal yang sehat dapat dengan mudah mengeluarkan kelebihan air.

Jika memiliki kondisi kronis yang memengaruhi ginjal, dokter mungkin sudah menyarankan untuk menyesuaikan asupan hidrasi dan minuman yang harus dihindari.

Jika belum, maka inilah saatnya kita membahasnya bersama dokter.

Baca juga: Hindari Menenggak Air Walau Haus

Tiroid juga bisa sangat memengaruhi rasa haus yang kita rasakan jika produksi hormon kelenjar terpengaruh.

Hipertiroidisme dan masalah tiroid lainnya dapat menyebabkan kondisi seperti ketidakteraturan menstruasi dan kecemasan, yang semuanya memengaruhi rasa haus.

National Institutes of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases juga melaporkan bagi yang memiliki masalah tiroid lebih mungkin menderita diabetes tipe-1, anemia, dan kondisi lainnya, yang mungkin menjadi akar penyebab rasa haus yang tak kunjung hilang.

9. Gangguan hormon langka

Ini jauh lebih jarang daripada memiliki masalah yang berkaitan dengan diabetes tipe 2, tetapi beberapa orang mungkin mengalami kelainan diabetes insipidus, yang memicu ketidakseimbangan cairan dalam tubuh.

"Ini berkaitan dengan tingkat produksi hormon yang disebut ADH (hormon antidiuretik), dan hal itu memengaruhi otak secara keseluruhan," jelas Weiss.

Kondisi itu memaksa ginjal untuk membuang air keluar dari tubuh, melebihi jumlah yang seharusnya.

Kemudian, kelainan hormon ini akan memaksa orang tersebut untuk mencari air, itulah mengapa kerap muncul rasa haus berlebih.

Penderita diabetes insipidus juga akan sering buang air kecil. Namun, kondisi ini relatif jarang terjadi.

Untuk memastikannya, kita bisa melakukan pemeriksaan darah lengkap.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X