Kompas.com - 29/09/2020, 06:00 WIB

KOMPAS.com - Selama masa karantina di tengah pandemi Covid-19, orangtua menjadi memiliki banyak waktu bersama anak.

Lantaran banyaknya waktu bersama, Psikolog Anak, Remaja dan Keluarga, Rosdiana Setyaningrum, menyarankan orangtua untuk memanfaatkannya demi mengembangan kepribadian anak.

Rosdiana mengatakan, perkembangan kepribadian anak akan berhenti di usia 12 tahun. Untuk itulah orangtua harus membentuk kepribadiannya sebelum menginjak usia tersebut.

Baca juga: Memilih Gaya Belajar yang Sesuai Tipe Kepribadian Anak

Perkembangan kepribadian anak perlu dibentuk sebagai bekal kehidupannya kelak.

Terkait hal ini, Rosdiana mengungkap tugas perkembangan kepribadian mendasar yang harusnya diajarkan oleh orangtua.

1. Mandiri

Anak harus belajar mandiri agar bisa menjalani hidupnya sendiri tanpa terus dibantu oleh orangtua.

Kemandirian juga akan berhubungan dengan kepercayaan diri pada anak.

“Karena jika bisa melakukan apa pun sendiri, dia akan percaya diri.”

Begitu kata Rosdiana dalam Media Briefing ‘Mencetak Anak Unggul dengan Cara Hidup Bijaksana dan Baik di Era PSBB’ yang digelar secara virtual pada Senin (28/9/2020) kemarin.

Ajarkan kemandirian sejak dini dengan meminta anak untuk membereskan mainannya sendiri, atau merapikan buku dan piring bekas makannya.

Baca juga: 4 Hal yang Harus Diperhatikan Saat Membeli Mainan dan Pakaian Anak

2. Tanggung jawab

Untuk anak yang sudah besar biarkan mereka mengerjakan tugas sekolahnya sendiri.

Orangtua juga tidak harus selalu membantu, biarkan anak menyelesaikan tugasnya sendiri.

“Kita harus lebih tegas, nanti kalau sudah tidak bisa baru tanya,” kata Rosdiana.

3. Menerima risiko

Anak harus belajar tentang risiko apa yang dilakukan karena tindakannya.

Misalnya, bila tidak mengerjakan tugas dari sekolah, risikonya adalah dihukum dan dimarahi guru.

4. Mengenali emosi

Ini tak hanya mengenal saja, tapi juga mengendalikan emosi.

Baca juga: Tanpa Marah, Lakukan Ini untuk Mengendalikan Emosi Anak

Hal ini perlu diajarkan agar anak mampu melakukan manajemen emosi yang baik untuk membantu kehidupannya kelak.

“Ini panjang rentetannya, supaya dia bisa menjadi pemimpin yang baik kelak,” kata Rosdiana.

5. Pengalaman belajar yang menyenanagkan

Buatlah suasana belajar menjadi menyenangkan.

Seperti membuat suasana membaca buku dengan anak yang menyenangkan, atau mengajak anak memasak sambil berhitung dan mengenal warna.

“Supaya mereka tahu kalau membaca dan berhitung itu menyenangkan,” ungkap Rosdiana.

Orangtua juga baik untuk tak mengeluh dengan banyaknya tugas dari sekolah di depan anak anak.

Baca juga: Tips Menguatkan Ikatan Emosional Orangtua dan Anak Selama Pandemi

Sebab, anak akan melihat hal itu dan menyerap informasi bahwa sekolah adalah tempat yang tidak menyenangkan.

“Akhirnya dia tidak mau manjadi pembelajar seumur hidup,” kata Rosdiana.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.