Mengapa Waktu Terasa Berjalan Lebih Cepat di Masa Pandemi?

Kompas.com - 01/10/2020, 09:30 WIB
ilustrasi kesepian shutterstockilustrasi kesepian

KOMPAS.com - Tiga bulan lagi kita akan mengakhiri tahun 2020. Kebanyakan dari kita mungkin menyadari bahwa masa pandemi Covid-19 membuat tahun ini berjalan begitu cepat.

Memasuki bulan Oktober, sebagian warganet di Twitter pun mengungkapkannya dengan menyertakan kata-kata "Udah Oktober" dalam tweet mereka.

Lalu, apa yang membuat masa pandemi terasa begitu cepat?

Penulis "Time Warped: Understanding the Mysteries of Time Perception", Claudia Hammond mengungkapkan, salah satu alasannya adalah karena kita menciptakan pengalaman subjektif kita sendiri tentang waktu dalam pikiran kita, dan itu tidak selalu sesuai dengan apa yang kita lihat pada jam atau kalender.

Sebagai contoh, ngobrol sambil ngopi dengan seorang teman selama 20 menit mungkin terasa singkat, berbeda dengan menunggu seseorang selama 20 menit yang akan terasa begitu lama.

Selama pandemi, kebanyakan dari kita lebih banyak berdiam diri di rumah dan terisolasi dari teman dan keluarga. Sehingga rasanya kita memiliki hari-hari yang panjang untuk diisi.

"Kita mungkin punya banyak hobi baru di masa pandemi, namun apapun itu, banyak aktivitas siang maupun malam kita habiskan di rumah, sehingga hari-hari mulai terasa serupa," kata Hammond, seperti dilansir BBC.

Beberapa orang bahkan merasa bahwa mereka kini tidak bisa membedakan antara hari kerja dan akhir pekan.

Pengaburan hari-hari yang identik ini membuat kita membuat lebih sedikit kenangan baru. Padahal, kenangan baru sangat penting bagi indra persepsi waktu kita.

Kenangan adalah salah satu cara kita menilai berapa lama waktu yang telah berlalu. Ketika kita pergi berlibur selama seminggu ke tempat baru, misalnya, waktu rasanya berlalu dengan cepat karena semua yang kita hadapi adalah hal baru.

Tetapi ketika sampai di rumah, kita melihat ke belakang dan merasa telah membuat begitu banyak kenangan baru, sehingga sering kali terasa seolah-olah kita sudah pergi jauh lebih lama dari seminggu.

Hal sebaliknya terjadi di masa pandemi. Sekalipun hari-hari terasa lambat, ketika sampai di akhir pekan dan melihat ke belakang, kita membuat lebih sedikit kenangan baru dari biasanya dan membuat waktu sepertinya telah menghilang.

"Ini adalah versi yang tidak terlalu ekstrem dari pengalaman yang dialami beberapa orang saat di penjara atau saat sakit."

"Waktu berlalu dengan sangat lambat dan mereka merindukannya untuk berakhir, tetapi saat mereka melihat ke belakang, waktu terasa seolah-olah telah menyusut," ungkapnya.

Hal senada diungkapkan oleh Psikiater di Community Psychiatry, Dr. Pavan Madan, M.D. Menurutnya, semakin banyak pengalaman baru yang kita miliki, semakin lama waktu yang kita rasakan.

"Semakin banyak emosi yang ditimbulkan suatu situasi, semakin kita mengingatnya,” kata Madan, seperti dilansir Very Well Mind.

Namun, karena kebanyakan dari kita tidak meninggalkan rumah, kita mengalami lebih sedikit rentang emosi, yang juga mengurangi penanda waktu yang disimpan ke dalam ingatan kita. Ini semua dapat merusak persepsi waktu.

 

Otak kehilangan rutinitas
Salah satu permasalahannya adalah otak kehilangan rutinitas.

"Banyak orang mengalami insomnia, kecemasan, bahkan depresi di masa pandemi karena kurangnya sosialisasi, kurang waktu di luar rumah dan perasaan bahwa semua tujuan hidup rasanya terhenti," ungkap Ahli saraf di New York City dan Universitas Colombia, Dr. Sanam Hafeez, PsyD.

Otak punya cara berbeda untuk bereaksi terhadap hal ini. Banyak orang dapat beradaptasi, tetapi sebagian orang menganggap ini adalah waktu yang sangat sulit karena hilangnya rutinitas.

Ketika hari-hari mulai terlihat sama dan kita tidak meninggalkan rumah untuk pergi bekerja, sekolah, berbelanja, atau berolahraga di pusat kebugaran, kita mulai merasa terjebak dalam keadaan kita sendiri.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan agar persepsi waktu dapat kembali normal, di antaranya:

  •  Berkomitmen terhadap rutinitas.
  •  Beraktivitas di luar ruangan lebih sering.
  •  Tetap terhubung dengan teman dan keluarga.
  •  Mengelola waktu tidur yang baik.
  •  Masukkan pengalaman bermakna dalam hari-harimu, dan
  •  Berlatih meditasi kesadaran.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X