Mengapa Anak Indonesia Tertinggal dalam Kemampuan Membaca

Kompas.com - 01/10/2020, 10:43 WIB
Ilustrasi membaca buku. ShutterstockIlustrasi membaca buku.

KOMPAS.com – Budaya membaca di Indonesia termasuk yang paling rendah dari tahun ke tahun. Padahal, membaca merupakan inti dari pendidikan. 

Penggagas Gerakan Literasi Sekolah Satria Dharma mengatakan, perlu ada kesadaran akan pentingnya penguasaan literasi membaca sejak dini, oleh semua pihak.

“Anak yang tiap hari sekolah tapi tidak membaca, sebenarnya dia tidak mendapat pendidikan. Tidak ada gunanya guru berbicara dan mengajar setiap hari, karena dengan hanya mendengar maka anak-anak tidak mendapat pendidikan,” katanya dalam virtual talkshow “Manfaat Storytelling untuk Perkembangan Karakter Anak” (30/9/2020).

Dampak dari budaya literasi yang rendah, menurut Satria Dharma, bisa dilihat dari status Indonesia sebagai pengirim buruh migran terbesar. TKI Indonesia sudah mencapai 9 juta.

“Karena kemampuan literasi kita rendah, kita tidak mampu menggerakkan roda perekonomian negara kita sendiri,” jelas Dharma.

Literasi rendah juga mengakibatkan hoaks dan hate speech merajalela.

Baca juga: Gramedia Bagikan 1.000 Buku Peringati Hari Anak Jakarta Membaca

Menurut Dharma, sebenarnya anak-anak Indonesia memiliki minat baca yang sama besarnya dengan negara lain.

“Lalu apa masalahnya? Ternyata sejak kecil, dan selama sekolah, anak-anak Indonesia tidak diwajibkan membaca buku,” katanya.

Ia membandingkan dengan negara-negara lain. Siswa SMA di Thailand wajib membaca 5 judul buku sastra, di Amerika Serikat 32 judul buku.

“Di SMA Indonesia, 0 judul. Ini fakta yang sangat menyakitkan. Jadi anak-anak kita rabun membaca dan tidak menulis. Prestasinya rendah. Dari 41 negara, kita hanya peringakt 39 PISA,” ujar Dharma.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X