Kiat Membesarkan Anak yang Suka Membaca

Kompas.com - 01/10/2020, 13:54 WIB
Anak-anak membaca buku di bemo perpustakaan di Jalan Karet Pasar Baru Barat II, Tanah Abang, Jalarta Pusat, Jumat (7/12/2018). Pak Sutino (58) adalah sopir bemo yang merintis bemo tuanya menjadi perpustakaan keliling bagi anak-anak sejak tahun 2013.  Pak Sutino (58) adalah sopir bemo yang merintis bemo tuanya menjadi perpustakaan keliling bagi anak-anak sejak tahun 2013. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGAnak-anak membaca buku di bemo perpustakaan di Jalan Karet Pasar Baru Barat II, Tanah Abang, Jalarta Pusat, Jumat (7/12/2018). Pak Sutino (58) adalah sopir bemo yang merintis bemo tuanya menjadi perpustakaan keliling bagi anak-anak sejak tahun 2013. Pak Sutino (58) adalah sopir bemo yang merintis bemo tuanya menjadi perpustakaan keliling bagi anak-anak sejak tahun 2013.

KOMPAS.com – Kegiatan membaca memiliki banyak manfaat bagi anak, mulai dari meningkatkan ikatan emosional dengan orangtua, mengembangkan daya imajinasi, hingga meningkatkan keterampilan bahasa.

Tak heran jika membaca disebut sebagai inti pendidikan. Sayangnya budaya membaca di Indonesia termasuk yang paling rendah. Itu sebabnya kesukaan membaca pada anak perlu dipupuk sejak dini.

Penggagas Gerakan Literasi Sekolah Satria Dharma mengatakan, anak-anak harus ditantang untuk membaca. Ia bahkan menyarankan agar anak sudah membaca sekitar 1.000 buku sebelum masuk sekolah TK.

“Sehari satu buku tipis, kan 5 tahun sudah 1.500 buku. Tidak harus selalu buku yang sama. 200 buku kita bacakan berulang-ulang juga bisa,” kata Satria dalam acara talkshow virtual yang digelar Tanoto Foundation bertema “Manfaat Storytelling untuk Perkembangan Karakter Anak”.

Buku-buku bacaan juga tidak harus membeli baru, namun bisa meminjam ke perpustakaan.

Head of Early Childhood Education and Development Tanoto Foundation, Eddy Hendry mengatakan, membaca adalah stimulasi untuk memaksimalkan perkembangan otak anak.

Di negara-negara maju, minat baca anak sudah dirangsang jauh sebelum mereka bisa membaca.

“Hasilnya, anak-anak yang suka membaca tidak memiliki kesulitan ketika bersekolah. Sebaliknya, anak yang tidak suka membaca ternyata dikaitkan dengan tingkat kriminalitas yang cenderung lebih tinggi ketika dewasa,” tuturnya.

Baca juga: Mengapa Anak Indonesia Tertinggal dalam Kemampuan Membaca

Lewat dongeng

Pendongeng Awam Prakoso memberikan tips, seperti saat ia mendirikan Kampung Dongeng Indonesia. Upayakan mulai membiasakan membaca dari tingkat keluarga.

“Seperti membakar obat nyamuk dari tengah lama-lama meluas sampai tingkat kelurahan, kecamatan, dan seluruh negeri,” ujarnya.

Buku, lanjut Awam, bisa menjadi satu alternatif yang bisa dimanfaatkan untuk memberikan edukasi pada anak-anak. Orangtua bisa membacakan buku cerita, atau bahkan membuat dongeng untuk anaknya di usia sedini mungkin.

Tentu saja orangtua juga perlu memberi contoh kebiasaan membaca di rumah. Luangkan waktu, misalnya sebelum tidur, untuk membacakan buku cerita atau mendongeng sesuai usia dan tingkat pemahaman anak.

Membangun minta baca sejak dini sangat penting untuk tumbuh kembang anak dan memengaruhi masa depan anak saat dewasa.

Baca juga: 5 Cara Membuat Anak Senang Membaca Buku



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X