Penyebab Anak Muda Sulit Berdiam di Rumah Selama Pandemi

Kompas.com - 01/10/2020, 15:37 WIB
Ilustrasi generasi Z THINKSTOCK/bowie15Ilustrasi generasi Z

KOMPAS.com - Situasi pandemi memaksa kita semua untuk menghabiskan waktu di rumah. Padahal, manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang lain.

Namun, kondisi menjadi sedikit lebih berat bagi anak muda atau saat ini generasi Z, yakni orang-orang kelahiran 1997-2012.

Untuk itulah kelompok usia tersebut cenderung lebih sulit untuk menahan diri berada di rumah, dibandingkan kelompok usia lainnya.

"Di usia yang sangat produktif, kebutuhan bertemu temannya tinggi, banyak yang baru mulai bekerja dan baru lulus, sulit bertahan di masa seperti sekarang."

Demikian diungkapkan Psikolog anak, remaja dan keluarga, Saskhya Aulia Prima, M. Psi dalam Nivea Lip Crayon Virtual Press Launch, Kamis (1/10/2020).

Saskhya menambahkan, sejak kita lahir otak memiliki kebutuhan untuk dekat dan terkoneksi dengan orang lain.

Selain merupakan kebutuhan dasar, koneksi juga membantu menjaga kesehatan fisik.

Ia menyebutkan adanya penelitian selama 80 tahun yang menemukan kesimpulan bahwa hidup seseorang akan lebih bermakna jika punya hubungan sosial yang baik.

"Kalau kita tidak terlalu stres, otomatis tidak gampang sakit, imun terjaga dan memberikan kebahagiaan," ucapnya.

Saskhya menyebutkan, beberapa hal di masa pandemi yang juga memicu kekhawatiran di kalangan anak muda, antara lain:

  • Berkurangnya interaksi dengan teman dan interaksi virtual tidak memberikan kepuasan interaksi yang maksimal.
  • Berdiam di rumah membuat kondisi psikologia semakin tertekan, terutama pada anak yang tidak memiliki hubungan yang baik dengan orangtuanya.
  • Virtual fatigue atau kelelahan karena banyaknya aktivitas digital. Apalagi, karakter interaksi virtual sangat berbeda dengan interaksi langsung, yang juga melibatkan ekspresi dan kontak mata.
  • Kecemasan sebagai dampak dari banyaknya interaksi secara virtual. Kebanyakan orang akan lebih memperhatikan penampilannya dan khawatir tidak tampil baik di depan kemera, dan
  • Akhir pandemi yang belum pasti.

Saskhya Aulia Prima, M. Psi.Dok. Istimewa Saskhya Aulia Prima, M. Psi.

Baca juga: Mengapa Waktu Terasa Berjalan Lebih Cepat di Masa Pandemi?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga keterhubungan dengan teman dan keluarga yang tidak tinggal bersama.

Mulai dari memanfaatkan platform online untuk mengeksplorasi aktivitas bersama, mengirim hadiah, menanyakan kabar teman dan keluarga lebih mendalam, hingga mengadakan pesta virtual.

"Karena manusia makhluk sosial, otak juga butuh terus terkoneksi secara sosial sehingga hubungan dengan orang terdekat harus tetap dijaga."

"Dengan bantuan teknologi, kita bisa menjaga agar hubungan tetap erat," ucapnya.

Namun, jangan lupa menyeimbangkan dengan rutinitas lainnya yang tidak melibatkan layar, seperti berolahraga atau berbincang dengan anggota keluarga yang tinggal satu atap.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X