Kompas.com - 01/10/2020, 16:54 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

Studi diperbarui setiap dua tahun hingga tahun 2013. Dari sana terkumpul data perihal gaya hidup dan kesehatan partisipan, termasuk pola dan durasi siklus menstruasi mereka.

Baca juga: Pencernaan Bermasalah Selama Menstruasi, Apa Sebabnya?

Pada awal penelitian, partisipan diminta mengingat informasi tentang menstruasi mereka dari usia 14-17 tahun.

Setelah mempertimbangkan variabel lain, peneliti menemukan hasil yang mengejutkan.

Hasilnya, wanita yang secara konsisten mengalami siklus menstruasi tidak teratur atau panjang (40 hari atau lebih) berisiko mengalami kematian dini 41-71 persen lebih tinggi, yang sebagian disebabkan oleh penyakit kardiovaskular.

Bahkan, risiko itu meningkat antara 66-71 persen pada partisipan yang merokok.

Partisipan yang mengalami gangguan menstruasi selama masa remaja dan dewasa, mempunyai kemungkinan dua kali lipat terkena tekanan darah tinggi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mereka juga lebih rentan terhadap kolesterol tinggi, diabetes, endometriosis (jaringan lapisan dalam rahim ditemukan di bagian tubuh lain), dan fibroid uterus (tumbuhnya benjolan yang merupakan tumor jinak di rahim).

2. Penggunaan alat kontrasepsi

Gangguan menstruasi karena pemakaian alat kontrasepsi dikaitkan dengan risiko kematian lebih tinggi pada remaja wanita berusia remaja.

Namun, risiko itu tidak ditemukan pada wanita dewasa.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X