Mengenal “CT-Scan” Gigi sebagai Alat Bantu Diagnosis

Kompas.com - 06/10/2020, 13:27 WIB
Ilustrasi dokter gigi melakukan prosedur perawatan gigi pada pasien menggunakan alat pelindung diri (APD) untuk mencegah penularan virus corona penyebab Covid-19. SHUTTERSTOCK/antoniodiazIlustrasi dokter gigi melakukan prosedur perawatan gigi pada pasien menggunakan alat pelindung diri (APD) untuk mencegah penularan virus corona penyebab Covid-19.

Penentuan diagnosis masalah gigi saat ini dilakukan melalui pemeriksaan klinis dan radiografis.

Secara radiografis meliputi X-Ray, seperti intra-oral radiografi, panoramik, dan 3D CBCT.

Pada beberapa kasus, radiografi gigi memiliki keterbatasan, yaitu tidak dapat mendeteksi lubang gigi kecil, keretakan enamel gigi, atau erosi gigi. Hal seperti ini dapat terlihat dengan teknik pencitraan medis lain, yaitu OCT.

Metode OCT menggunakan interferometri dengan cahaya koheren parsial, pertama kali dipaparkan pada tahun 1991. Pada tahun 1993 di Vienna, uji coba in-vivo pertama kali dilakukan pada bagian retina manusia. Kemudian pada tahun 1996, perangkat OCT diproduksi pertama kali secara komersil oleh Zeiss-Humphrey.

Saat ini, terdapat dua tipe dasar OCT: time domain optical coherence tomography (TdOCT) dan fourier domain optical coherence tomography (FdOCT).

Baca juga: Ahli Sebut CT Scan Lebih Efektif untuk Diagnosis Virus Corona daripada Tes Swab

 

Prinsip pemindaian lokasi setiap lapisan jaringan dengan OCT adalah berdasarkan frekuensi modulasi dari intensitas cahaya dan sinyal elektrik yang dihasilkan deteksi spektrum sinar disebut sinyal pita spektral.

Saat ini, dua metode praktis yang digunakan untuk tipe deteksi ini adalah spectral optical coherence tomography (SOCT) dan swept source optical coherence tomography (SS-OCT).

SS-OCT memiliki keunggulan dalam kemampuan penetrasi lebih dalam untuk pemindaian dan menggunakan sapuan laser dengan panjang gelombang pendek dan dapat disesuaikan.

OCT juga mampu menghasilkan serangkaian pencitraan dua dimensi yang selanjutnya kombinasi tersebut dapat menghasilkan pencitraan tiga dimensi. 

Pencitraan tersebut dapat mendeteksi kerapatan dinding-dinding gigi dengan tambalan, celah tambalan, gelembung udara di dalam tambalan gigi, keretakan tambalan gigi, atau porositas pada lesi gigi berlubang.

Gambar 2. (Kiri) Foto klinis permukaan gigi taring yang terlihat halus tanpa ada lubang gigi. (Kanan, lingkaran merah) Terlihat gambaran area putih yang menandakan gigi mulai kehilangan mineral sebagai tahapan awal terjadinya gigi berlubang. 
Istimewa Gambar 2. (Kiri) Foto klinis permukaan gigi taring yang terlihat halus tanpa ada lubang gigi. (Kanan, lingkaran merah) Terlihat gambaran area putih yang menandakan gigi mulai kehilangan mineral sebagai tahapan awal terjadinya gigi berlubang.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X