Berdekatan dengan Orang yang Bersin atau Batuk, Harus Lakukan Apa?

Kompas.com - 08/10/2020, 18:06 WIB
Ilustrasi bersin, batuk Shutterstock/Billion PhotosIlustrasi bersin, batuk

KOMPAS.com - Sudah lebih dari enam bulan kita hidup di tengah pandemi Covid-19. Berulang kali kita mendengarkan anjuran untuk menutup mulut dengan lipatan siku ketika bersin atau batuk agar untuk menekan penyebaran virus.

Penggunaan masker yang diwajibkan di banyak tempat membuat hampir semua orang mengenakan masker di ruang publik. Namun, ada saja kondisi di mana kita bisa berdekatan dengan orang yang tidak menggunakan masker.

Jika orang di dekat kita tersebut yang bersin atau batuk, apa yang harus kita lakukan?

Profesor di Icahn School of Medicine di Mount Sinai, Fredrick Sherman berbagi tipsnya.

Menurut Sherman kepada The Atlantic, jika kita berada dalam skenario berisiko tinggi di mana ada seseorang yang bersin atau batuk di dekat kita, segeralah buang napas untuk menghindari menghirup tetesan atau aerosol.

"Tutupi bibirmu agar napas lebih lama. Balikkan kepala sepenuhnya dari orang tersebut dan mulailah berjalan menjauh," ungkapnya, seperti dilansir HuffPost.

Metode ini mungkin tidak akan secara pasti melindungi kita dari Covid-19, tetapi setidaknya dapat mengurangi jumlah virus yang masuk ke tubuh kita jika orang di dekat kita bersin atau batuk, dan ternyata dia tetesan napasnya mengandung virus corona.

Sebab, jika tak sengaja menghirupnya dalam dosis tinggi kita bisa saja sakit.

Berapa lama kita terpapar partikel yang terinfeksi juga penting dalam hal penularan. Semakin lama kita berada di sekitar orang tersebut, maka semakin banyak waktu virus berkesempatan masuk ke sistem pernapasan kita.

Baca juga: Berapa Lama Idealnya Masa Pemulihan Pasien Covid-19?

Tentu saja ada langkah jangka panjang yang yang harus kita ambil untuk mengurangi risiko terinfeksi Covid-19.

Misalnya, ketika bersosialisasi dengan orang lain yang tidak tinggal satu atap denganmu, usahakan untuk tetap berada di luar ruangan selama cuaca sedang cerah.

Sebab, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), seseorang lebih berisiko tinggi tertular virus di dalam ruangan daripada di luar ruangan. Penyebabnya, ventilasi dan ruang yang lebih sedikit membuat orang lebih sulit untuk menjaga jarak satu sama lain.

Menggunakan masker tentu bisa membantu mencegah penularan virus. Namun, kita juga perlu waspada tentang masker yang dipakai dan memilih masker yang menawarkan perlindungan terbaik terhadap virus.

Ketua Departemen Epidemiologi Penyakit Mikroba di Yale School of Public Health, Albert Ko, menjelaskan kepada The Atlantic bahwa orang-orang harus menerima bahwa masker wajah akan menjadi bagian dari hidup kita tanpa batas waktu tertentu.

Beberapa ahli bahkan mengatakan bahwa penggunaan masker wajah dapat bertahan hingga tahun 2021, meski vaksin sudah ditemukan.

Baca juga: Face Shield dan Masker Filter Tak Efektif Cegah Penularan Covid-19

"Dengan terus menggunakan masker, kita semua bisa fokus untuk meningkatkan efektivitasnya dan membuatnya tidak terlalu mengganggu ketika dipakai," ucap Ko.

Terakhir, pastikan rajin mencuci atau mensterilkan tanganmu serta area permukaan dengan frekuensi sentuhan tinggi di rumahmu.



Sumber Huffpost
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X