Pahami, Hubungan antara Stres dan Potensi Serangan Jantung

Kompas.com - 18/10/2020, 21:02 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Stres kronis dapat menyebabkan tekanan darah tinggi ( hipertensi) yang merupakan faktor risiko utama serangan jantung.

Menurut sebuah penelitian pada tahun 2010 di Current Hypertension Reports, stres kronis -entah karena masalah ekonomi, percintaan, dan lainnya, berkontribusi pada terjadinya hipertensi.

Sementara, sekitar 70 persen orang yang mengalami serangan jantung pertama menderita hipertensi.

Baca juga: Waspadai, Pemicu Risiko Hipertensi Selain Garam

Seiring waktu, stres yang berkepanjangan tentu dapat berdampak negatif.

Misalnya, kecemasan berisiko lebih tinggi terhadap berbagai jenis penyakit jantung, yakni arteri koroner, gagal jantung, dan gangguan irama jantung seperti takikardia.

Selain itu, stres dapat mengaktifkan kebiasaan tidak sehat saat orang berusaha mengatasinya,

Misalnya, dengan mulai merokok, mengonsumsi banyak alkohol, atau makan berlebihan yang dapat berdampak pada meningkatkan risiko serangan jantung.

Di samping itu, kita perlu mewaspadai stres yang memengaruhi jantung dengan menyebabkan takotsubo cardiomyopathy  atau yang dikenal sebagai "sindrom patah hati."

“Takotsubo cardiomyopathy terasa seperti serangan jantung dengan gejala nyeri dada dan sesak napas.”

Baca juga: Banyak Bergerak, Kunci untuk Mencegah Hipertensi

Demikian penjelasan ahli jantung di Dartmouth Hitchcock Medical Center, Lauren Gilstrap, MD.

Gejala tersebut bisa muncul secara tiba-tiba, dipicu oleh peristiwa emosional yang menegangkan, seperti kematian mendadak orang yang dicintai.

Melakukan aktivitas fisik dan olahraga merupakan cara yang dapat mengurangi stres secara keseluruhan, serta meningkatkan kesehatan jantung.

Namun, membuat perubahan gaya hidup untuk mengurangi stres sangatlah sulit bagi kebanyakan orang. 

Untuk itu, Gilstrap merekomendasikan pasiennya untuk melihat secara realistis penyebab stres dalam hidup, dan mulai menyesuaikan apa yang mereka bisa lakukan.

Baca juga: Rekomendasi Olahraga untuk Cegah Hipertensi

Di saat bersamaan, mereka diminta untuk tidak terlalu khawatir tentang apa yang ada di luar kendali mereka.

"Hidup itu rumit dan orang memiliki tuntutan dari berbagai tempat," ujar Gilstrap.

"Ini tentang memperbaiki hal-hal, membangun kesuksesan, dan memberdayakan pasien untuk membuat perubahan yang lebih positif,” sambung dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X