Media Sosial Jadi Rujukan Informasi Nutrisi dan Kesehatan

Kompas.com - 26/10/2020, 08:16 WIB
Ilustrasi media sosial shutterstockIlustrasi media sosial

KOMPAS.com – Media sosial menjadi kanal informasi yang paling sering digunakan untuk mencari informasi seputar nutrisi di kalangan konsumen negara-negara Asia Pasifik. Sebanyak 7 dari 10 konsumen menyebut sadar akan pentingnya pengetahuan tentang nutrisi.

Demikian menurut survei yang dilakukan Herbalife terhadap 5.000 responden yang berasal dari 11 negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Senior Director & Country General Manager Herbalife Nutrition Indonesia, Andam Dewi, mengatakan masyarakat menganggap informasi seputar nutrisi adalah hal yang penting.

“Hal ini cukup menggembirakan, berarti mereka sadar akan pentingnya nutrisi untuk kesehatan tubuh,” kata Andam dalam talkshow virtual (22/10/2020).

Namun, kesalahan informasi dan mitos terkait nutrisi menjadi penghalang utama yang mencegah konsumen memperoleh pengetahuan yang akurat. Hanya sedikit yang mencari rujukan informasi dari dokter atau situs kesehatan yang terpercaya.

Meski mayoritas responden mengatakan butuh informasi tentang nutrisi, namun hanya 4 dari 10 yang merasa yakin dengan kebenaran informasi nutrisi yang mereka dapatkan di berbagai kanal informasi.

Baca juga: 5 Mitos soal Makanan yang Mengganggu Kesehatan Anak

Pakar nutrisi dan dosen dari Departemen Gizi Masyarakat IPB, Dr.Rimbawan mengatakan survei tersebut mengungkap banyaknya kesalahan informasi dan mitos terkait nutrisi yang dipercaya masyarakat.

“Dengan banyaknya sumber informasi gizi dan maraknya mitos seputar nutrisi, akan mempersulit konsumen untuk mendapatkan informasi yang akurat serta membedakan fakta atau mitos. Hal ini menunjukkan akan pentingnya mendapatkan pengetahuan yang akurat dari sumber yang dapat dipercaya,” kata Rimbawan.

Dalam survei itu terungkap, 68 persen responden menggunakan media sosial untuk mencari informasi terkait nutrisi, 64 persen mengandalkan teman dan keluarga, dan 59 persen memilih publikasi media dan situs web.

Beberapa mitos keliru yang masih dipercaya misalnya pola makan sangat rendah lemak adalah cara terbaik menurunkan berat badan, karbohidrat dapat menambah berat badan, hingga makin berumur semakin sedikit protein yang dibutuhkan.

Andam mengatakan, dalam mencari saran terkait diet atau nutrisi, penting untuk menggali lebih dalam dan memeriksa apakah informasinya didukung oleh sains atau penelitian. Jika ragu, carilah informasi pembanding.

"Waspadai saran terkait diet yang menjanjikan penurunan berat badan mudah dan meninggalkan jenis makanan tertentu. Nutrisi yang seimbang disertai olahraga teratur adalah cara yang peling tepat dalam mendapatkan kesehatan yang baik dalam jangka panjang," katanya.

Baca juga: 8 Mitos Diet yang Tak Perlu Lagi Dipercaya



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X