BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Milo

Anak-anak Jepang Disebut Paling Bahagia dan Sehat di Dunia, Ini Rahasianya

Kompas.com - 28/10/2020, 08:04 WIB
Ilustrasi pola asuh orangtua di Jepang. iSTOCK/RichVintageIlustrasi pola asuh orangtua di Jepang.
|

KOMPAS.com – Setiap orangtua menginginkan anaknya sehat dan bahagia. Karena itu, mereka selalu mengupayakan yang terbaik agar anak punya kehidupan seperti itu.

Tubuh sehat diperoleh lewat pemenuhan kebutuhan nutrisi seimbang dan pengaturan pola makan yang juga teratur. Sayangnya, dalam dunia parenting, hal ini bukanlah perkara mudah. Kebiasaan anak yang suka rewel soal makanan menjadi kendala tersendiri bagi para orangtua.

Meski begitu, banyak jalan menuju Roma. Apabila Anda termasuk orangtua yang merasa kesulitan dalam mengatur anak soal makanan, tak ada salahnya mencontoh para orangtua di Jepang.

Penelitian dari The Lancet melaporkan, anak-anak yang lahir dan tumbuh besar di Jepang dikatakan sebagai anak paling sehat dan bahagia di dunia. Bahkan, umur mereka bisa lebih panjang dibandingkan anak di negara lain.

Rupanya, hal tersebut dapat terwujud karena para orangtua di Negeri Sakura itu paham betul trik untuk menyiasati kebiasaan anak yang susah makan.

Lalu, siasat seperti apa yang diterapkan para orangtua di Jepang sehingga anak mereka bisa tumbuh sehat lagi bahagia? Berikut ulasannya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mendorong anak eksplorasi makanan baru

Anak-anak cenderung cepat merasa bosan, termasuk soal makanan. Hal ini disikapi secara serius oleh para orangtua di Jepang.

Oleh sebab itu, dibanding memaksa anak memakan makanan yang tidak ia suka, para orangtua lebih memilih memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi makanan baru.

Lagi pula, menurut para ahli di sana, penting untuk anak mencoba berbagai jenis makanan sehat. Sebab, semakin dini dan kaya pengalaman anak dalam menjajal makanan sehat yang baru, maka semakin tinggi minat mereka pada makanan sehat. Hal ini akan terbentuk menjadi kebiasaan dan terbawa sampai mereka memasuki usia dewasa.

Menyajikan anak makanan bernutrisi seimbang dan dalam porsi pas

Salah seorang penulis dari penelitian yang dipublikasikan oleh The Lancet, William Doyle, mengatakan bahwa dibandingkan orang di negara maju lainnya, rata-rata orang Jepang mengonsumsi lebih sedikit kalori per hari, tapi tetap memenuhi kebutuhan nutrisi lainnya.

Orang Jepang memang menjadikan nasi sebagai makanan pokoknya. Namun, perlu diketahui, kandungan kalori pada nasi di Negeri Sakura terbilang sedikit. Bahkan, lebih rendah dari roti.

Hal itu dikarenakan nasi di sana berasal dari golongan short-grain rice yang secara kandungan lebih mirip dengan beras merah. Proses pengolahannya pun menjadikan kandungan kalori pada nasi menjadi lebih sedikit.

Dalam hal porsi, orang Jepang juga terbiasa menyantap makanan dalam jumlah pas. Relatif rendah kalori dan tinggi nutrisi sehingga lebih mengenyangkan ketimbang mengonsumsi makanan dengan padat kalori.

Orang Jepang lebih sering mengonsumsi makanan nabati, seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, dan lemak sehat, seperti ikan yang kaya omega-3 dan sehat untuk jantung.

Pola makan sehat seperti itu diterapkan orangtua Jepang saat menyuguhkan makanan bagi anak-anak mereka. Para orangtua itu pun mampu mengendalikan konsumsi camilan untuk anak-anak. Mereka tidak melarang makanan, seperti pizza, es krim, atau keripik, tetapi menyajikannya dalam porsi kecil.

Para orangtua di Jepang terbiasa mengajak anak mereka untuk menyiapkan hidangan untuk makan.iSTOCK/Yagi-Studio Para orangtua di Jepang terbiasa mengajak anak mereka untuk menyiapkan hidangan untuk makan.

Pengalaman makan bersama keluarga menyenangkan

Sebuah penelitian menemukan, kehangatan dan kepuasan yang tercipta dari keterlibatan orangtua dan anak dalam sebuah aktivitas berpengaruh pada penurunan risiko obesitas pada anak-anak. Para orangtua di Jepang pun paham akan hal ini.

Karena itu, mereka terbiasa mengajak anak untuk turut serta dalam menyiapkan makanan, mulai dari memasak hingga menyajikan. Dengan cara ini, pengalaman makan bersama keluarga terasa jauh lebih menyenangkan.

Memberi kesempatan untuk menikmati makanan kesukaan

Anak-anak juga punya kecenderungan tidak suka dipaksa, khususnya dalam hal menyantap makanan.

Karena itu, para orangtua di Jepang membiarkan anak mereka memilih hidangan yang disukai, selama itu sehat dan bernutrisi.

Pola asuh tegas tanpa mengekang

Dalam hal gaya hidup dan kebiasaan makan, para orangtua di Jepang memang terkesan membebaskan pilihannya kepada anak-anak. Namun, secara menyeluruh, mereka sebenarnya menerapkan pola asuh otoritatif.

Para orangtua di Jepang terbilang tegas. Mereka menerapkan pedoman yang mesti diikuti oleh anak. Meski begitu, mereka tidak mengekang dan terbuka untuk mendengarkan saran anak dan bersikap fleksibel ketika diperlukan.

Ilustrasi orangtua di Jepang kerap mendorong anak mereka melakukan aktivitas fisik.iSTOCK/anurakpong Ilustrasi orangtua di Jepang kerap mendorong anak mereka melakukan aktivitas fisik.

Banyak aktivitas fisik

Selain dari makanan, tubuh sehat juga didapat dari penerapan aktivitas fisik yang membakar kalori. Tak heran, masyarakat Jepang lebih suka berjalan kaki atau bersepeda saat menempuh jarak pendek.

Para orangtua di sana pun kerap mendorong anak mereka melakukan aktivitas fisik, semacam berlari atau lompat tali.

Di Indonesia, aktivitas fisik, seperti berlari, bersepeda, dan jalan santai, memang bisa dilakukan. Sayangnya, saat ini anak cenderung susah lepas dengan ponselnya. Padahal, anak-anak perlu melakukan aktivitas setidaknya 60 menit tiap harinya agar tubuh senantiasa sehat.

Apabila deretan aktivitas fisik tersebut tak memungkinkan untuk diterapkan di rumah, orangtua bisa menyiasati dengan melibatkan anak saat mengurus rumah. Sebut saja bersih-bersih, menyiram tanaman, memberi makan hewan peliharaan, atau olahraga ringan di rumah, seperti lompat tali atau bulu tangkis.

Untuk menemani anak saat beraktivitas dan menjadikan mereka tetap berenergi, seperti pada video ini, orangtua bisa memberikan anak Milo kotak.

Dengan kombinasi ekstrak malt, susu, dan cokelat, Milo mengandung Vitamin B1, B2, B3, B6, serta kalsium dan fosfor sehingga dapat mendukung aktivitas anak sepanjang hari.

Selain itu, ukurannya yang pas menjadikan Milo begitu praktis untuk dibawa kemana saja. Untuk mendapatkan produk ini, silakan klik di sini.

Nah, semoga sederet tips di atas bisa membantu Anda para orangtua dalam mendukung kesehatan dan kebahagiaan anak, ya!

Jangan lupa kunjungi situs resmi Milo. Ada banyak informasi yang bisa orangtua jadikan panduan untuk mendukung anak menjadi generasi sehat dan aktif.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.