Menerima Kekurangan, Cara Terhindar Dari Toxic Positivity

Kompas.com - 28/10/2020, 17:09 WIB
Ilustrasi pria phototechnoIlustrasi pria

KOMPAS.com - Situasi pandemi Covid-19 membuat banyak orang dilanda emosi negatif. Sebut saja stres, cemas, khawatir, merasa terpuruk, dan semacamnya.

Beberapa orang ada yang mencoba mengatasi perasaan tidak nyaman ini dengan selalu berpikir positif dan menyemangati diri sendiri.

Sebagian orang bahkan sampai menyangkal memiliki perasaan negatif karena beranggapan bahwa mencoba berpikir positif dapat membuat dirinya lebih baik.

Padahal, tidak ada salahnya mengakui emosi negatif tersebut asal tidak larut dan menyerah ke dalamnya.

Selalu merasa positif malah bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental. Hal ini dikenal dengan istilah toxic positivity.

Baca juga: Toxic Positivity, Pikiran Positif yang Berakibat Buruk bagi Mental

 

Psikolog klinis dewasa Alfath Hanifah Megawati mengatakan, toxic dalam positivitas terjadi saat perasaan tidak nyaman tidak diakui.

Ini seolah tidak memberi ruang untuk perasaan lemah, sakit, atau menemui kegagalan. Sebaliknya, pikiran yang tertanam adalah harus selalu positif, benar, dan menang.

Situasi ini membuat seseorang memendam dan menahan perasaan tidak nyaman di alam bawah sadarnya. Lama kelamaan hal itu bisa menghancurkan dirinya.

Padahal sebagai manusia, merasa tidak nyaman, sakit, gagal, lemah adalah hal yang wajar.

"Perlu diingat, kita tidak bisa selalu bahagia dan selalu nyaman dalam hidup," ujar psikolog yang akrab disapa Ega saat dihubungi Kompas.com.

Ditambahkan olehnya, mengakui diri sedang lemah, terpuruk, tidak senang, sakit, gagal, kadang malah justru diperlukan.

Namun bukan berarti harus terus terjebak dalam perasaan negatif. Perlu juga untuk mengakui kekuatan di dalam diri untuk mengatasinya.

"Cari tahu apa yang bisa dilakukan untuk membuat diri merasa lebih baik. Ini step yang penting juga," kata Ega.

Cobalah untuk memvalidasi dan ajak diri melakukan suatu aksi sehingga kenyamanan diri bisa dirasakan kembali.

Dengan begitu, toxic positivity bisa dihindari sekaligus bangkit dari keterpurukan.

Baca juga: Membedakan antara Toxic Positivity dan Berpikiran Positif



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X