Kompas.com - 31/10/2020, 12:06 WIB

"Pas bilang tempat sekolah siswa dari berbagai daerah, warga bilang oh... sekolah kristenisasi. Ke sebelah sana,” ungkap Ai.

Toh, mendapat cap seperti itu tak menyurutkan tekad Ai.

Meskipun ia harus menghadapi aksi unjuk rasa saat dipanggil Pemerintah Kabupaten Pangandaran, untuk mengklarifikasi isu SARA.

Pendemo atau pun mereka yang menolak sekolah itu bukan warga sekitar sekolah. Sebab, sejak awal warga sekitar menerima keberadaan anak-anak berbagai suku itu.

Beruntung, lambat laun anggapan negatif sekolah ini pudar. Terutama, saat kerusuhan pecah di Papua, banyak pejabat yang lantas mengamini upaya Ai membangun kelas multikultural.

“Para siswa ini penyebar 'virus toleransi'. Mereka menebar benih keberagaman. Kalau terjadi konflik, siapa yang memiliki imun? Ya mereka."

"Karena tiga tahun mereka hidup bareng dalam keberagaman. Mereka agen perdamaian,” ucap Ai.

Bertahan di tengah pandemi

Saat pandemi, masalah keuangan pun muncul. Donatur menghentikan bantuan, dan berbagai kerjasama pun ditunda.

Di sisi lain, meski sebagian siswa pulang ke daerahnya, sekolah harus tetap beroperasi.

Akhirnya Ai bersama warga serta relawan mengandalkan kekuatan publik dengan menggelar program Jumat berbagi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.