drg. Citra Kusumasari, SpKG (K), Ph.D
dokter gigi

Menyelesaikan Program Doktoral di bidang Kariologi dan Kedokteran Gigi Operatif (Cariology and Operative Dentistry), Tokyo Medical and Dental University, Jepang.

Sebelumnya, menempuh Pendidikan Spesialis Konservasi Gigi di Universitas Indonesia, Jakarta dan Pendidikan Dokter Gigi di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Berpraktik di berbagai rumah sakit dan klinik di Jakarta. Ilmu karies, estetik kedokteran gigi, dan perawatan syaraf gigi adalah keahliannya.

Pajak Makanan dan Minuman Bergula Sebagai Pencegahan Gigi Berlubang

Kompas.com - 05/11/2020, 15:51 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Selain makanan penutup dan makanan ringan Thailand, minuman manis dari kedai kopi dan pedagang kaki lima merupakan sumber tambahan gula yang umum dikonsumsi oleh penduduk Thailand.

Baca juga: 6 Pemanis Pengganti Gula bagi Penderita Diabetes

Gigi berlubang berkaitan dengan gula

Beberapa studi menunjukkan bahwa penurunan insidensi gigi berlubang, gigi hilang dan gigi yang ditambal, berhubungan langsung dengan penerapan pajak pada makanan dan minuman yang mengandung gula.

Sebuah penelitian di Taiwan menyebutkan bahwa anak-anak yang mengalami gigi berlubang parah disebabkan oleh kebiasaan makan dan minum minuman yang mengandung gula. Begitu pula di Jepang, penelitian menyebutkan anak usia 6 sampai 7 tahun memiliki kebiasaan mengonsumsi minuman mengandung gula minimal dua kali sehari, sehingga mengakibatkan peningkatan insidensi gigi berlubang sebesar 22 persen.

Sebuah studi kasus di Polandia melaporkan bahwa mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula dapat menurunkan prevalensi gigi berlubang.

Baca juga: 3 Kebiasaan Orangtua yang Tularkan Gigi Berlubang pada Anak

Dari beberapa penelitian mengenai hubungan konsumsi gula dan gigi berlubang, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Konsumsi gula berhubungan erat dengan tingkat karies berdasarkan penelitian di Amerika Serikat.

2. Konsumsi gula dihubungkan dengan faktor sosio-ekonomi, termasuk ketersediaan produk dan kebiasaan makan dan minum di rumah.

3. Anak-anak harus dibiasakan untuk mengurangi konsumsi gula sejak dini.

4. Dokter gigi harus mencatat konsumsi gula pada pasien anak-anak dan memberikan perhatian penting pada masalah ini.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.