Tinggi Lemak Vs Tinggi Protein, Mana yang Lebih Baik untuk Diet?

Kompas.com - 08/11/2020, 08:30 WIB
Ilustrasi diet, diet autoimun ShutterstockIlustrasi diet, diet autoimun

Penelitian tersebut dilakukan dalam dua tahap pada 57 pria dan wanita obesitas yang berusia antara 40-60 tahun.

Kemudian, para partisipan dibagi secara acak menjadi dua kelompok.

Satu kelompok diminta untuk mengonsumsi 34 persen protein dengan 37 persen karbohidrat, lalu kelompok lain mengonsumsi 45 persen lemak dan 37 persen karbohidrat.

Setelah 52 minggu penelitian ekstensif, ditemukan kedua kelompok mampu menurunkan berat badan 5-8 persen dengan tekanan darah, gula darah, insulin, dan kadar kolesterol yang sama.

Diet tinggi lemak tidak sehat

Memang benar, kedua pendekatan diet itu membantu menurunkan jumlah berat badan yang sama.

Tetapi menurut para ahli, mengikuti diet tinggi lemak untuk waktu yang lama bukanlah ide yang baik.

Meskipun kita mendapatkan lemak dari sumber sehat seperti omega-3 dan lemak tak jenuh tunggal, ini tetap bukan pilihan yang sehat.

Sayangnya, diet tinggi lemak juga membuat kita kehilangan asupan variasi buah dan sayuran, yang berdampak negatif pada kesehatan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X