Kompas.com - 10/11/2020, 15:40 WIB
Ilustrasi stres di kantor shutterstockIlustrasi stres di kantor
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Stres rupanya bisa menjadi dampak sekaligus penyebab kebutaan. Ketika seseorang kehilangan penglihatannya, ada kemungkinan merasa stres dan cemas dengan situasinya.

Di sisi lain, bisa juga terjadi conversion disorder yaitu stres terus menerus yang mengakibatkan masalah penglihatan.

Bukan sekadar asumsi, banyak penelitian yang memperkuat teori ini. Temuan ini membuat tenaga medis seperti dokter disarankan untuk mengurangi tingkat stres pasien, salah satunya jika ingin menghindari kebutaan.

Kebutaan akibat stres

Penelitian yang menyebut stres dapat menjadi penyebab kebutaan datang dari tim Prof. Bernhard Sabel, direktur Institute of Medical Psychology di Magdeburg University, Jerman.

Dalam penelitiannya, dikemukakan bahwa stres yang terjadi terus menerus akan meningkatkan level hormon kortisol dalam tubuh.

Dalam jangka panjang, produksi hormon stres berlebih ini berdampak buruk bagi sistem saraf simpatik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal ini juga bisa berpengaruh pada kondisi otak dan mata, menyebabkan munculnya penyakit pada saraf mata seperti glaukoma, retinopati diabetik, dan penyakit degenerasi makula karena pengaruh penuaan.

Jika tidak ditangani dengan tepat, ada kemungkinan menyebabkan kebutaan.

Mengenal conversion disorder

Kebutaan histerikal atau fungsional digunakan untuk menjelaskan masalah penglihatan yang bukan dipicu kondisi struktur yang abnormal. Istilahnya adalah conversion disorder. Artinya, kebutaan terjadi di luar kesadaran pasien.

Kondisi mental ini menyebabkan seseorang bisa mengalami kebutaan, kelumpuhan, atau masalah sistem saraf lain yang tak dapat dijelaskan dari hasil evaluasi medis.

Pada kondisi ini, yang terjadi adalah represi emosi seperti rasa marah dan takut yang terkonversi menjadi penurunan fungsi penglihatan secara signifikan.

Kerap kali, pasien mengira yang terjadi adalah masalah pada lensa sehingga perlu menggunakan kacamata.

Gejala awalnya bisa muncul tiba-tiba setelah mengalami sesuatu yang memicu stres. Selain itu, orang yang memiliki masalah perilaku juga berisiko menderita conversion disorder.

Untuk mengatasinya, bisa dilakukan kelola stres dan terapi bicara dengan pakarnya. Tujuannya adalah untuk meredakan gejala yang muncul.

Baca juga: Stres Panjang Picu Kerontokan Rambut, Bagaimana Prosesnya?

Bukan hanya masalah kebutaan

Stres tak hanya dapat mengakibatkan kebutaan atau penyakit mata lainnya. Ada keluhan lain yang mungkin terjadi seperti:

  • Penglihatan kabur
  • Mata gatal
  • Mata berkedip sebelah
  • Sakit kepala
  • Mata kering
  • Mata berair
  • Lebih sensitif terhadap cahaya
  • Otot mata terasa lelah

Sangat masuk akal jika stres dapat menyebabkan keluhan di atas muncul. Stres adalah respon alami tubuh ketika ada perubahan yang mengganggu kondisi normalnya. Bentuknya bisa perubahan secara fisik, mental, emosional, hingga visual.

Lebih jauh lagi, ketika stres pupil mata akan membesar sehingga cahaya masuk lebih banyak. Dengan demikian, potensi ancaman bisa terlihat kian jelas.

Di sisi lain, adrenalin dan kortisol yang meningkat bisa menimbulkan tekanan pada mata. Akibatnya, mata melihat dengan buram.

Dampak stres pada tiap orang bervariasi mulai dari ringan hingga parah. Banyak pula pasien yang tidak menyadari dampak stres yang dialaminya terhadap fungsi dan kesehatan penglihatannya.

Baca juga: Pahami, Hubungan antara Stres dan Potensi Serangan Jantung

Pentingnya kelola stres

Temuan ini kembali menggarisbawahi pentingnya mengelola stres sebelum menjadi penyebab berbagai penyakit, termasuk masalah penglihatan.

Artinya, strategi mengurangi stres bisa menjadi langkah pencegahan sebelum muncul masalah penglihatan.

Beberapa strategi yang bisa dilakukan mulai dari konseling dengan psikolog, meditasi, berolahraga, tidur cukup, bahkan teknik pernapasan dapat membantu mengelola stres.

Mengubah gaya hidup juga bisa menjadi langkah pencegahan. Contohnya mengatur posisi duduk yang benar saat duduk di depan komputer seharian, menghindari computer vision syndrome, dan mengurangi melihat layar terlalu lama.

Tak hanya itu, dokter juga perlu menanamkan optimisme pada pasien sehingga tidak menyebabkan kecemasan kian dominan. Namun, tentunya dengan tetap memaparkan dengan jelas seputar penyakit yang diderita.

Bahkan pilihan kata saat berkomunikasi dengan pasien juga sangat krusial. Konsekuensi dari apa yang disampaikan dokter juga dapat menentukan level stres yang dirasakan pasien.

Baca juga: 10 Cara Menghilangkan Stres Berat agar Kembali Bahagia

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.