Kompas.com - 11/11/2020, 10:18 WIB
Ilustrasi daging merah yang dimasak menjadi steak. Studi mengungkapkan cara memasak daging yang sempurna belum tentu baik bagi penderita penyakit jantung. SHUTTERSTOCK/Marian WeyoIlustrasi daging merah yang dimasak menjadi steak. Studi mengungkapkan cara memasak daging yang sempurna belum tentu baik bagi penderita penyakit jantung.
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Sudah lama daging merah dianggap sebagai pemicu berbagai penyakit seperti diabetes, kanker, dan penyakit jantung. Di sisi lain, daging putih dianggap sebagai pilihan yang jauh lebih sehat.

Namun faktanya, kedua jenis daging ini sama-sama dapat meningkatkan kolesterol darah.

Artinya, jika ingin menjaga kadar kolesterol tetap terjaga, ada baiknya membatasi konsumsi daging secukupnya.

Sayuran, produk olahan susu, dan biji-bijian atau kacang-kacangan bisa jadi pilihan yang lebih bersahabat untuk kadar kolesterol.

Baca juga: 11 Hal yang Terjadi pada Tubuh bila Terlalu Banyak Makan Daging

Perbedaan daging merah dan daging putih

Merunut ke cirinya, daging merah mengandung lebih banyak mioglobin, protein penyimpan oksigen dan menyalurkannya ke jaringan otot.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada hewan, otot yang lebih sering digunakan akan berwarna gelap. Itu sebabnya, paha ayam bisa tampak lebih gelap ketimbang dada.

Di dunia kuliner, daging putih biasanya digunakan untuk menyebut daging ayam dan kalkun, sementara daging merah mengacu pada daging sapi, babi, dan domba.

Perbedaan utama kedua jenis daging ini adalah kadar lemak di dalamnya. Daging putih mengandung protein rendah lemak, sementara daging merah memiliki kadar lemak lebih tinggi.

Namun, kandungan nutrisi seperti zat besi, zinc, dan vitamin B juga lebih tinggi.

Jenis zat besi pada daging yang disebut heme iron lebih mudah diserap tubuh ketimbang zat besi dari protein nabati.

Meski demikian, konsumsi daging merah berlebihan meningkatkan risiko menderita berbagai penyakit seperti kanker usus, penyakit jantung dan pembuluh darah, serta diabetes.

Ditambah lagi jika proses pengolahan daging dilakukan dalam suhu tinggi seperti memanggang, bisa menyebabkan munculnya zat karsinogenik penyebab kanker.

Baca juga: 10 Hal yang Terjadi pada Tubuh Jika Berhenti Makan Daging Merah

Benarkah daging putih lebih sehat?

Ilustrasi daging bebek mentah utuh. SHUTTERSTOCK/CATHERINE77 Ilustrasi daging bebek mentah utuh.
Selain perbedaan kandungan lemaknya, daging putih dari ayam atau unggas kerap dianggap lebih aman dikonsumsi.

Nyatanya, ada penelitian baru dari Children’s Hospital Oakland Research Institute yang mengungkap fakta bahwa daging putih juga dapat menyebabkan kolesterol dalam darah.

Dalam penelitian itu, lebih dari 100 orang dewasa sehat dilibatkan sebagai partisipan. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, yang pertama menjalani diet tinggi lemak jenuh sementara kelompok kedua rendah lemak jenuh.

Tak hanya itu, partisipan juga menjalani tiga jenis diet berbeda dengan menu daging merah, daging putih, dan tanpa daging sama sekali.

Masing-masing diet dijalani selama 4 minggu. Sampel darah partisipan dibandingkan pada awal dan akhir periode diet.

Tujuannya untuk mengukur total jumlah kolesterol, utamanya low-density lipoprotein, si kolesterol “jahat” yang dapat menyebabkan akumulasi plak di pembuluh darah. Tingginya LDL ini juga menjadi pemicu penyakit jantung.

Tentu, tim peneliti menduga daging merah akan menjadi pemicu melejitnya kadar kolesterol LDL.

Namun faktanya cukup mengejutkan. Baik daging merah maupun putih memiliki dampak yang sama terhadap kadar kolesterol, termasuk LDL.

Di sisi lain, kadar LDL partisipan yang tidak mengonsumsi daging tentu jauh lebih rendah.

Tim peneliti juga menambahkan bahwa untuk mengetahui korelasi antara konsumsi daging dan penyakit jantung, perlu penelitian lebih banyak lagi.

Baca juga: Bagian Mana Daging Ayam yang Paling Sehat dan Bagaimana Mengolahnya?

Kolesterol bukan satu-satunya tolok ukur

Kolesterol adalah zat berlemak yang membantu pembentukan sel. Ketika tubuh memiliki terlalu banyak kolesterol terutama LDL, rentan terjadi penumpukan di pembuluh darah. Ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Idealnya, kadar LDL berada di bawah 100 mg/dl sedangkan triglyceride di bawah 150 mg/dl.

Namun, kadar kolesterol dalam darah bukan satu-satunya hal yang bisa menjadi tolok ukur sehat tidaknya pola makan seseorang.

Jika ingin menghindari risiko penyakit dari pola makan, alangkah baiknya menghindari makanan yang dikemas atau diproses berlebihan.

Makanan yang diproses seperti ini tinggi kandungan sodium, gula, dan lemak jenuh. Belum lagi bahan pengawet yang digunakan dalam produk kemasan atau makanan beku.

Apabila ingin menghindari lemak jenuh, tentu bukan hanya daging merah atau putih saja yang perlu dicoret dari menu sehari-hari. Ada banyak sumber lemak jenuh lain yang juga perlu diantisipasi.

Alangkah baiknya jika memberikan porsi terbesar menu makanan sehari-hari dari sayuran, buah, whole grain, dan olahan susu rendah lemak.

Baca juga: Cegah Kolesterol Tinggi, Kurangi Konsumsi Makanan Berikut

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.