Kompas.com - 11/11/2020, 12:28 WIB
ilustrasi mengatur keuangan Shutterstockilustrasi mengatur keuangan

KOMPAS.com – Belum lama ini pemerintah menyebutkan Indonesia telah memasuki resesi ekonomi. Meski begitu, resesi bukan kiamat. Kita bisa menghadapinya dengan sikap bijak dan ketenangan, salah satunya lebih cermat mengatur keuangan.

Financial trainer QM Financial, Emiralda Noviarti, membagikan tips mengatur keuangan rumah tangga agar kita bisa bertahan dan kuat secara finansial menghadapi resesi.

Langkah pertama adalah memeriksa sumber penghasilan kita selama pandemi, apakah normal, terganggu, hilang sama sekali, atau terdampak tetapi tidak signifikan.

“Kalau memang uang berkurang signifikan, apa yang mau dikelola. Cek juga ada opportunity apa. Misalnya kita punya kemampuan memasak, menulis, atau sewa properti. Sepanjang tak ada konflik kepentingan dan tak mengganggu pekerjaan utama, tak masalah cari penghasilan tambahan,” kata Emiralda.

Kemudian kita perlu mengatur anggaran bulanan. Ia menjelaskan, sebelum dan setelah pandemi pasti akan ada perubahan pengeluaran, karenanya kita harus tahu kondisi keuangan.

Setidaknya ada lima pos pengeluaran, yaitu cicilan utang maksimal 30 persen dari penghasilan, pengeluaran rutin (termasuk kebutuhan rumah tangga, transportasi, atau asuransi) sekitar 40-60 persen, menabung atau investasi minimal 10 persen, kebutuhan sosial minimal 2.5 persen, dan kebutuhan pribadi atau gaya hidup maksimal 20 persen.

Baca juga: Merasa Lebih Boros Saat Masa Karantina? Simak Tips Keuangan Berikut

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dana darurat

Di masa pandemi ini, menurut Emiralda memiliki dana darurat menjadi relevan.

“Penting untuk punya sejumlah uang kalau terjadi apa-apa, sehingga ada yang jadi pegangan. Kalau uang pas-pasan, prioritas utama adalah bisa survive,” katanya.

Menurut teori, seorang yang lajang perlu memiliki dana darurat sebesar empat kali pengeluaran bulanan. Untuk yang sudah berkeluarga dengan dua anak, besarannya 12 kali pengeluaran.

“Minimal besaran dana darurat adalah besar cicilan utang dan biaya hidup rutin. Kalau total pengeluaran terlalu besar nanti kita jadi putus asa dan tidak mulai-mulai mengumpulkan dana darurat,” katanya.

Langkah selanjutnya adalah memastikan kita memiliki perlindungan, misalnya asuransi kesehatan atau asuransi jiwa.

Terakhir, memeriksa rencana dan performa investasi apakah sudah sesuai dengan tujuan.

“Apakah uangnya ada untuk investasi? Kalau terbatas, apa yang diprioritaskan, apa yang bisa ditunda. Fokus kita saat ini adalah bisa survive,” katanya.

Baca juga: Baru Kena PHK? Begini Cara Mengatur Uang Pesangon



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.