Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tentukan Pilihanmu
0 hari menuju
Pemilu 2024
Kompas.com - Diperbarui 01/12/2022, 06:41 WIB
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahkan pengguna media sosial terdiri dari berbagai kalangan termasuk remaja.

Sekarang ini banyak remaja yang mencari dan berbagi informasi di media sosial. Sayangnya, tak sedikit yang salah menangkap informasi, dan kurang bijak menggunakan media sosial.

Tentunya orangtua harus mengawasi anaknya yang bermain media sosial. Sebab sama seperti pada orang dewasa, media sosial juga bisa berdampak buruk ke anak khususnya remaja.

Berikut lima dampak negatif media sosial terhadap remaja seperti diuraikan The Health Site.

1. Kegelisahan

Sebagian besar remaja mengalami tekanan untuk menulis sesuatu yang sempurna, mengunggah gambar terbaik, dan langsung membalas ketika ada pesan di media sosial.

Selain itu, tak sedikit remaja yang mendapatkan komentar negatif tentang dirinya di media sosial. Hal ini membuat mereka mengalami kecemasan dan kegelisahan.

Baca juga: Mengenali 9 Kondisi Kecemasan akibat Media Sosial

2. Kurang tidur

Menurut suatu penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Youth, penggunaan media sosial dapat memengaruhi pola tidur remaja.

Remaja memiliki dorongan untuk bangun di tengah malam guna mengetahui hal-hal yang diunggah oleh teman-temannya.

Perilaku inilah yang membuat remaja kurang tidur dan pada akhirnya dapat memengaruhi perubahan suasana hati. Terlebih remaja memiliki emosi yang masih labil.

Selain itu, ada masalah kesehatan lain yang mengintai seperti depresi dan obesitas.

Baca juga: Tanda Kamu Perlu Break dari Media Sosial

3. Perundungan siber

Mayoritas remaja pernah menjadi korban cyberbullying atau perundungan siber.

Pelaku perundungan biasanya memanfaatkan teknologi, dalam hal ini media sosial, untuk melecehkan, menghina, dan hal negatif lainnya kepada korban.

Remaja yang menjadi korban cyberbullying cenderung mengalami depresi, kecemasan, dan bahkan memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Baca juga: Cyber Bullying Bisa Memicu Keinginan untuk Bunuh Diri

4. Iri hati

Di media sosial banyak orang yang menampilkan sisi terbaik dari dirinya.

Sangat sedikit yang mau menunjukkan kesusahan atau hal lain yang membuatnya direndahkan.

Ketika seseorang menampilkan dirinya dengan sangat baik di internet, hal itu memberikan kesan seolah hidupnya lebih menarik dibanding orang lain.

Tak jarang juga hal itu mengundang rasa iri hati dari pengguna media sosial lain. Sejumlah orang dewasa bisa mengalaminya, tapi lebih rentan terjadi pada remaja.

Oleh karenanya, penting bagi orangtua untuk memastikan anaknya tidak iri hati terhadap kehidupan orang lain di media sosial.

Ajarkan anak untuk memahami bahwa tidak semua di media sosial adalah nyata dan minta mereka untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain.

Sebab hal itu dapat membuatnya rendah diri. Selain itu, orangtua juga bisa mengajarkan anak untuk fokus pada dirinya sendiri daripada mencoba menjadi seperti orang lain.

Baca juga: Kenapa Kita Sering Membandingkan Diri Dengan Orang Lain di Medsos?

5. Kurang komunikasi

Meskipun media sosial adalah tempat untuk berinteraksi dengan orang lain, tapi tentu rasanya berbeda dengan berkomunikasi langsung.

Sayangnya para remaja begitu sibuk melihat ponsel mereka sepanjang waktu.

Akibatnya mereka lupa ada kehidupan sosial di luar ponsel.

Hal ini membuat mereka cakap berinteraksi di media sosial, namun kurang komunikasi dengan orang lain di kehidupan nyata.

Bahkan tak jarang remaja menjadi 'jauh'dengan orang-orang di sekitarnya seperti keluarga dan teman. Bila dibiarkan, hal ini dapat merusak hubungan.

Baca juga: Waspadai, 5 Tanda Kecanduan Media Sosial

Tindakan orangtua

Untuk mencegah atau meminimalisir dampak negatif media sosial pada remaja, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua.

1. Jauhkan ponsel dan perangkat elektronik lainnya milik orangtua saat sedang bersama anak.

Luangkan waktu bersama anak dan minta mereka untuk menyimpan ponselnya juga.

Bagaimanapun, penting bagi orangtua untuk memberi contoh agar bisa diikuti oleh anak-anaknya.

2. Orangtua zaman sekarang harus memahami teknologi. Apabila ada orangtua yang masih kurang paham, maka lebih baik mempelajarinya.

Ini adalah kunci bagi orangtua untuk mengawasi dan mengontrol anaknya yang bermain media sosial.

3. Dorong anak untuk lebih sering melakukan aktivitas fisik daripada bermain media sosial atau hal lain yang terhubung dengan internet.

4. Tetapkan zona bebas teknologi di rumah untuk membatasi waktu layar anak.

5. Buat anak memahami efek berbahaya dari waktu layar berlebihan dan pengaruhnya terhadap kesehatan.

Baca juga: 13 Hal yang akan Terjadi Ketika Tak Ada Media Sosial

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke