Kompas.com - 16/11/2020, 16:37 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com – Pembelajaran jarak jauh (PJJ) memberi tantangan untuk guru, orangtua, dan tentunya siswa. Tak sedikit anak yang merasa bosan mengikuti pelajaran dan prestasinya menurun selama PJJ.

Minat belajar anak yang menurun itu membuat orangtua harus melakukan berbagai cara agar anak kembali bersemangat.

Menurut Prof Dr dr Tjhin Wiguna, SpKJ (K), agar seorang anak bisa belajar dengan baik dibutuhkan fungsi eksekutif yang merupakan bagian dari fungsi kognitifnya.

Fungsi eksekutif berada di otak bagian depan yang memungkinkan anak untuk berpikir kritis, membuat rencana, fokus, dan mengingat perintah.

“Dengan fungsi eksekutif, anak bisa mengontrol emosinya sehingga kalau menemui kesulitan belajar tidak cenderung marah atau frustasi,” kata Prof Tjhin dalam peluncuran virtual Dancow FortiGro #2XLebihSiap beberapa waktu lalu.

Baca juga: Masih PJJ, Kapan KBM Tatap Muka di Sekolah Bisa Dilangsungkan?

Hal lain yang tak kalah penting dari fungsi eksekutif adalah membuat anak memiliki inisiatif yang lebih baik. Dengan begitu mereka bisa merencanakan kegiatan-kegiatan yang hendak dilakukan.

Misalnya, apabila anak ingin menguasai suatu topik pembelajaran, maka mereka harus belajar dulu dengan cara membaca dan berlatih.

Memori kerja

Fungsi eksekutif juga berperan dalam fungsi utama otak yakni memori kerja. Seorang anak mampu menyelesaikan masalah dengan baik apabila memori kerjanya bekerja optimal.

“Memori kerja mampu menyimpan informasi selama beberapa saat, beda dengan memori jangka pendek. Memori kerja juga berfungsi merencanakan dan melakukan tindakan,” ujar Tjhin.

Misalnya ketika anak diberi soal matematika, dengan memori kerja yang optimal, saat melihat soal anak langsung tahu rumus yang harus digunakan dan bisa langsung mengerjakannya.

Baca juga: Mengatasi Screen Time pada Anak Saat Belajar Daring

Memori kerja juga penting untuk merencanakan sesuatu. Misalnya apabila anak hendak berangkat sekolah, mereka tahu arah jalannya kemana, bukan sekadar hafalan karena sudah mengingat hal yang dipelajari sebelumnya.

“Ini berkaitan dengan kemampuan anak untuk menghubungkan dan menyimpulkan suatu hal,” imbuh psikiater anak dan remaja itu.

Baca juga: Kalau Belajar di Rumah, Tingkat Stres Orangtua Lebih Tinggi dari Anaknya

Memori kerja dibutuhkan oleh anak-anak usia SD. Terlebih sekarang ini pelajaran seperti Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPA digabung menjadi satu.

Ketika memori kerja berfungsi optimal, walau pelajaran-pelajaran tersebut digabung, anak bisa membedakannya. 

Di masa PJJ, sebagian besar anak belajar hanya dengan membaca dan mendengarkan. Memori kerja membantu anak menyimpulkan hal-hal yang dipelajari. Maka fungsi eksekutif harus optimal.

Baca juga: Lama di Rumah Bikin Anak Kesepian, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?

Nutrisi yang tepat

Tjhin mengatakan, dalam penelitian yang dilakukannya kepada siswa SD di Jakarta diketahui, anak-anak yang mengalami kesulitan belajar di sekolah dikarenakan memori kerjanya tidak optimal. Hal ini berdampak pada prestasi anak.

“Terbukti anak yang memori kerjanya tidak optimal mengalami kesulitan tiga kali lipat pada pelajaran tersebut dibandingkan anak tanpa gangguan memori kerja,” ujarnya.

Di sinilah peran orangtua untuk memastikan anak memiliki fungsi eksekutif dan memori kerja yang optimal. Salah satunya dengan memberikan nutrisi yang tepat.

Untuk mendapatkan fungsi eksekutif yang optimal, otak harus berkembang dengan baik melalui pemenuhan gizi yang 60 persen terdiri dari lemak, utamanya lemak DHA.

Lemak DHA paling banyak ditemukan di membran sel neuron. Fakta dari berbagai penelitian juga menemukan lemak DHA berada di otak bagian depan yang merupakan pusat fungsi eksekutif.

Baca juga: Nutrisi yang Berperan pada Tinggi Badan Anak

Sayangnya, dikatakan Tjhin, pola makan anak-anak saat ini cenderung kurang kadar lemak DHA. Dalam konsentrasi level tertentu, lemak DHA dapat memodulasi zat kimiawi di otak sehingga proses yang terjadi di otak menjadi lebih lancar. Begitu juga dengan proses belajar anak yang lebih cepat dan baik.

“Penglihatan, pendengaran, stimulus apapun dapat diterima, diproses, disimpan dan digunakan kembali oleh otak apabila kadar lemak DHA-nya cukup. Sedangkan kadar DHA yang rendah berkaitan dengan penurunan kemampuan belajar anak,” kata Tjhin.

Tantangan di masa PJJ menjadi lebih berat. Oleh karenanya, orangtua perlu menambahkan asupan nutrisi seperti minyak ikan yang mengandung DHA dan Omega 6 agar kemampuan belajar anak menjadi optimal.

Makanan lain yang bisa diberikan adalah ikan salmon yang kaya asam lemak Omega 3, DHA, dan EPA.

Baca juga: Bahaya Konsumsi Makanan dan Minuman Manis pada Anak Sebelum Tidur



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X