Kompas.com - 19/11/2020, 08:40 WIB
Maskot Manusia Covid membawa poster bertulisakan data penderita Covid-19 terlihat di Halte Transjakarta Harmoni, Kamis (16/7/2020). Maskot Manusia Covid bertujuan mengingatkan penumpang Transjakarta untuk disiplin mematuhi prosedur kesehatan selama masa PSBB Transisi Tahap II berlangsung. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOMaskot Manusia Covid membawa poster bertulisakan data penderita Covid-19 terlihat di Halte Transjakarta Harmoni, Kamis (16/7/2020). Maskot Manusia Covid bertujuan mengingatkan penumpang Transjakarta untuk disiplin mematuhi prosedur kesehatan selama masa PSBB Transisi Tahap II berlangsung.

KOMPAS.com - Masa pandemi Covid-19 ini menjadi tantangan yang berat bagi semua orang, terutama penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

Sebagai orang yang sudah memiliki riwayat penyakit paru kronis, penderita PPOK menjadi kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi Covid-19.

Apalagi secara umum PPOK banyak dialami orang-orang dengan usia lanjut, sehingga risiko kematiannya lebih besar akibat Covid-19.

"Memang penderita PPOK disarankan untuk tetap berada di rumah saja. Kemudian mereka juga harus menerapkan 3M dalam kesehariannya guna mencegah penularan virus."

Hal tersebut disampaikan oleh Dokter Spesialis Paru yang merupakan Konsultan Asma dan PPOK RSUP Persahabatan, Dr Budhi Antariksa, SpP(K), PhD, saat konferensi pers virtual bersama Kalbe, Rabu (18/11/2020).

"Penyakit paru kronis ini otomatis akan menurunkan imunitas tubuh. Sehingga, penderita PPOK sebaiknya tidak berpergian sementara waktu dan menghentikan rokok bagi yang perokok," lanjut dia.

Baca juga: Susah Bernapas, Waspadai Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di samping itu, melakukan vaksinasi flu bisa menjadi salah satu upaya untuk melindungi diri dari virus flu yang dapat memperparah kondisi penyakit paru kronis ini.

Meski sama-sama menyerang paru, Budhi menjelaskan bahwa gejala PPOK dan Covid-19 tentu saja berbeda. PPOK memiliki gejala yang lebih sederhana yakni sesak napas dan batuk berdahak.

Sementara Covid-19 ditandai dengan banyak gejala, seperti timbulnya demam, nyeri otot, adanya gangguan saluran pencernaan, dan kencing, serta hilangnya indera penciuman maupun perasa.

"Maka, selain tetap di rumah dan menerapkan protokol kesehatan, penderita PPOK harus memerhatikan asupan nutrisi dan berolahraga untuk meningkatkan kekebalan tubuh," ujarnya.

Baca juga: Batuk Tak Selalu Gejala Covid-19, Bagaimana Membedakannya?

Adapun, olahraga yang disarankan untuk para penderita PPOK yakni olahraga yang dapat meningkatkan otot-otot napas di dada, misalnya berenang, senam asma, atau yoga.

Olahraga tersebut berfokus menggerakan otot pernapasan agar tidak menjadi kecil dan membuat paru-paru lebih kuat tanpa bantuan alat bantu oksigen.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X