Bahaya Tekanan Darah Tinggi pada Ibu Hamil

Kompas.com - 19/11/2020, 15:43 WIB
Ilustrasi pemeriksaan ibu hamil. SHUTTERSTOCK/Blue Planet StudioIlustrasi pemeriksaan ibu hamil.

KOMPAS.com – Memonitor tekanan darah selama kehamilan penting dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan ibu hamil. Terkadang, ibu hamil memiliki tekanan darah tinggi saat mengandung meski sebelum hamil selalu normal.

Jika tekanan darah calon ibu tinggi, yaitu di atas 130 mm Hg/80 mm Hg, di usia 20 minggu kehamilan maka ibu bisa mengalami pre-eklampsia yang merupakan kondisi berbahaya bagi ibu dan juga janin.

Di Indonesia, preeklampsia diperkirakan dialami 7-10 persen ibu hamil. Pada ibu, kondisi ini bisa memicu kejang dan stroke, sementara pada bayi dapat menyebabkan persalinan prematur (sebelum 37 minggu) dan berat badan bayi rendah.

Hipertensi saat hamil dapat membuat bayi kekurangan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkannya untuk tumbuh.

Meski demikian, hipertensi saat kehamilan bisa dicegah dan diatasi sehingga kehamilan berjalan sehat. Salah satu yang wajib dilakukan ibu hamil adalah rutin memeriksakan kehamilan.

Baca juga: Waspadai, Pemicu Risiko Hipertensi Selain Garam

Dijelaskan oleh Kepala Program Studi Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Dr.Toto Sudargo SKM, mengontrol asupan kalori dan nutrisi berperan penting dalam mencegah hipertensi kehamilan.

“Ada beberapa cara untuk mencegah hipertensi dalam kehamilan, serta meningkatkan imunitas ibu dan janin yang dikandungnya. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan pola makan yang memperbanyak sayuran dan ikan, dan strategi diet rendah garam,” katanya dalam acara webinar “Peran Gizi Sebagai Langkah Pengendalian Hipertensi dan Menjaga Kekebalan Tubuh dalam Kehamilan”.

Toto mengutip penelitian yang menunjukkan pola makan tinggi sayur dan ikan mengurangi risiko hipertensi kehamilan sampai 14 persen dan risiko preeklampsia sampai 21 persen.

Direkomendasikan untuk mengonsumsi sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran yang bervariasi setiap harinya. Sementara itu, konsumsi ikan disarankan tidak lebih dari dua porsi ikan berlemak seperti salmon, makarel, atau ikan laut lainnya.

Baca juga: 9 Makanan Pantangan Darah Tinggi yang Perlu Dihindari

“Diet rendah garam juga apat menurunkan risiko hiperetensi,” ujarnya.

Pola makan rendah garam bisa dilakukan dengan membatasi garam saat memasak, mengurangi asupan makanan cepat saji atau makanan kalengan. Selalu baca label dalam kemasan makanan untuk mengetahui kadar natriumnya.

Selain itu, untuk menambahkan rasa dalam masakan bisa digunakan daun rempah-rempah sebagai pengganti garam. Cara lain adalah menggunakan bumbu umami.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X