Kompas.com - 24/11/2020, 13:53 WIB
Pasien positif Covid-19 orang tanpa gejala (OTG) memasuki bus sekolah di Puskesmas Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (25/9/2020). Total sebanyak 21 Pasien positif Covid-19 orang tanpa gejala (OTG) yang dipindahkan ke Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet untuk di karantina. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPasien positif Covid-19 orang tanpa gejala (OTG) memasuki bus sekolah di Puskesmas Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (25/9/2020). Total sebanyak 21 Pasien positif Covid-19 orang tanpa gejala (OTG) yang dipindahkan ke Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet untuk di karantina.

Kekhawatiran itu ditambah dengan perayaan Thanksgiving, Natal, dan Tahun Baru, yang biasanya akan dilalui bersama keluarga atau berpesta.

Baca juga: 2.843 Pasien Covid-19 Dirawat di RSD Wisma Atlet, Peningkatan Mengkhawatirkan

Para ahli menilai, lonjakan kasus juga terjadi karena masyarakat mulai jenuh dan kelelahan. Kondisi ini membuat mereka lalai untuk menggunakan masker, terutama dalam pertemuan kelompok kecil karena menganggap aman.

Setelah berbulan-bulan pandemi menjadi berita utama yang suram, banyak dari kita juga mengalami apa yang disebut sebagai "belas kasih memudar."

“Orang-orang menjadi mati rasa terhadap apa yang terjadi setiap hari. Mereka merasa tidak berdaya, seperti tidak ada yang bisa mereka lakukan, jadi mereka mengikuti arus, ”kata Syra Madad, direktur senior sebuah rumah sakit di New York.

Baca juga: 47 Persen Anak Indonesia Bosan di Rumah, Akademisi IPB Beri Saran

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menunggu vaksin

Dengan potensi beberapa vaksin yang efektif di depan mata, orang mungkin mulai memiliki harapan untuk menunggu sebentar lagi.

Tapi sebenarnya, masih berbulan-bulan lagi untuk mengirimkan vaksin dan membuatnya berhasil.

Untuk itu, sebelum vaksin benar-benar tersedia dan terbukti efektif, sebaiknya tunda liburan dan banyak berdiam diri di rumah.

Walau begitu sebenarnya laju penambahan kasus masih bisa dihentikan. Protokol kesehatan yang ketat seperti, mengenakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan tetap tinggal di rumah saat sedang sakit, bisa dilakukan untuk menghentikan laju penularan.

Metode ini dinamakan metode “Sepotong keju Swiss”, dimana masing-masing memiliki lubang, tetapi ketika kamu menumpuknya, mereka akan membentuk balok yang kokoh.

Baca juga: Sebelum Ada Vaksin, Kunci Paling Penting adalah Protokol Kesehatan

"Tidak ada satu lapisan pun yang 100 persen (utuh), tetapi jika kamu menambahkan lapisan tambahan, itu mengurangi risiko," jelas David Dowdy, MD, dari Departemen Epidemiologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomber.

Intinya, Madad menekankan, setiap tindakan yang kita lakukan masing-masing (dalam hal ini menaati protokol kesehatan) dan jika itu dilakukan oleh banyak orang, akan segera menghentikan penyebaran virus.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Sumber WebMD
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.