Kompas.com - 25/11/2020, 12:16 WIB
Ilustrasi ayah dan anak shutterstockIlustrasi ayah dan anak
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Sebelum mengajarkan anak bagaimana cara membaca, menulis, atau berhitung, ada keterampilan hidup berharga yang harus dia pelajari yakni kecerdasan emosional.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk menafsirkan, memahami, dan merespons emosi diri sendiri maupun orang lain.

Keterampilan inilah yang dapat membuat perbedaan besar bagi perkembangan dan kesejahteraan anak di masa depan.

"Kita ingin anak-anak dibekali dengan keterampilan emosional yang diperlukan untuk menghadapi dunia,” kata pakar mindfulness Karen Atkinson.

Dengan menerapkan nilai-nilai ini, anak-anak kemungkinan akan tumbuh besar dengan lebih bahagia, lebih percaya diri, dan mengalami hubungan yang lebih sehat dalam kehidupan dewasanya.

Semua keterampilan ini dapat diajarkan kepada anak saat dia masih kecil dan fondasinya harus diletakkan sejak lahir.

Sebagai orangtua, kita berada dalam posisi yang tepat untuk menjadi guru yang dapat melatih sendiri keterampilan penting ini pada anak-anak kita.

Baca juga: Usia Tepat untuk Mulai Ajarkan Anak Kecerdasan Emosional

Nah, untuk mengetahui lebih lanjut, kita harus mengajarkan tujuh kecerdasan emosional berikut, seperti yang dilansir dari laman motherandbaby.co.uk.

1. Mindfulness

Bayi cenderung bahagia secara alami. Namun seiring pertumbuhan, dia bisa saja kehilangan kemampuan untuk menikmati atau berada di saat ini alias mindfulness.

"Ketika tumbuh, ia pasti akan mulai mengkhawatirkan hari esok atau memikirkan kembali apa yang terjadi kemarin," ujar Atkinson.

Tapi kita bisa mengajari anak untuk mempertahankan keterampilan mindfulness, di mana dia hanya berfokus pada saat ini saja, tanpa kekhawatiran akan hari esok atau kekecewaan hari kemarin.

Hal tersebut bisa dilakukan sambil berjalan-jalan di taman. Minta anak untuk lebih memperhatikan sekelilingnya.

Coba juga tanyakan padanya, apakah dia bisa mendengar kicauan burung, melihat bunga warna-warni, atau merasakan angin yang sepoi-sepoi.

Jika kita memiliki lebih dari satu anak, ubahlah menjadi permainan mencari tahu dengan bertanya 'siapa yang bisa?'.

Lakukan ini pada anak usia bayi dan balita karena akan sangat menarik perhatiannya, serta mengajarkan kosakata yang kelak akan digunakan untuk mendeskripsikannya sendiri.

Menjadi mindfulness juga akan membantu membangun kenangan yang hidup.

Baca juga: Cara Ajari Anak Mindfulness di Masa Pandemi

2. Kebaikan

Menurut penulis buku "Do Nice Be Kind Spread Happy, Acts of Kindness for Kids", Bernadette Russell, belajar menjadi baik hati dan pengertian membuat anak-anak lebih bahagia.

Anak-anak yang baik hati juga merasa lebih mudah untuk berteman.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan, kebaikan sudah ada di dalam diri seseorang dan hanya perlu diperkuat.

Untuk mengasahnya pada anak balita, coba mainkan permainan yang disebut 'ini temanku'.

Pasangkan anak-anak dan sebutkan setiap nama sebanyak mungkin tentang teman atau saudara mereka yang hebat. Itu membuat kedua anak merasa senang.

Jika anak masih terlalu kecil untuk mengungkapkan perasaan ini, sebutkan sendiri kualitas baiknya.

Dia akan menanggapi dengan hangat, terutama jika kita memberikan contoh perilaku yang baik untuk mendukung deskripsi diri kita.

Baca juga: Bayi yang Sering Dipeluk Tumbuh Lebih Sehat dan Baik Hati

IlustrasiShutterstock Ilustrasi
3. Kemampuan untuk mendengarkan

Jika kita meluangkan waktu untuk mendengarkan apa yang anak kita ceritakan, dia kemungkinan besar akan mengikuti teladan itu dan menjadi pendengar yang baik.

Jadi, ketika anak kita memiliki sesuatu yang penting baginya untuk diberitahukan kepada kita, luangkan waktu duduk bersama dan memberikan perhatian penuh pada dia.

Mengulangi sebagian dari apa yang telah dikatakan anak menunjukkan kita telah mendengarkannya.

Ini adalah keterampilan yang dapat kita mulai sejak dia lahir.

Baca juga: 5 Cara agar Anak Mendengarkan Orangtua

4. Keingintahuan

Anak-anak pada dasarnya memiliki keingintahuan yang tinggi pada dunia dan itu terserah pada kita untuk mengembangkan daya tarik tersebut.

Mungkin bisa membosankan jika anak akan terus bertanya untuk yang kesekian kalinya. Tapi begitulah cara dia menjelajahi dunia.

Perhatikan apa yang secara alami diminati anak dan ikutlah untuk tertarik, bahkan pada sesuatu yang kurang kita sukai.

Cara terbaik untuk mendorong rasa petualangan pada anak adalah ketika orangtua juga memiliki rasa itu sendiri.

Baca juga: Alasan Orangtua Harus Aktif Dorong Rasa Ingin Tahu Si Kecil

5. Empati

Empati itu agak sulit untuk diajarkan kepada balita karena dia terprogram untuk melihat dirinya sebagai pusat dunianya.

Namun, jika kita menunjukkan perilaku empatik, dia akhirnya akan mengerti. Di samping itu, kita dapat mengajarinya untuk menyebutkan emosi yang muncul dan jelaskan penyebabnya.

Misalnya, ada seorang kakak yang merasa kesal karena mainannya diambil oleh adiknya. Kita bisa mengajukan pertanyaan yang mengharuskan adik untuk berempati.

Tanyakan bagaimana dia dapat membantu sang kakak merasa lebih baik. Ketika anak itu akhirnya keluar dari gelembung egoisnya, dia akan memunculkan empati.

Baca juga: 4 Cara Menumbuhkan Rasa Empati pada Anak

6. Penerimaan

Kita berusaha keras untuk tidak mengecewakan anak-anak. Tetapi banyak ketidakadilan kecil dalam hidup membuat anak-anak membutuhkan bantuan untuk belajar bagaimana menghadapi kekecewaan.

Penulis buku "Toddlers: An Instruction Manual", Joanne Mallon menyarankan kita untuk berfokus pada upaya anak yang dilakukan anak, bukan pada hasilnya.

Temukan sesuatu yang spesifik untuk dipuji. Sebab, pujian otentik seperti itu akan meningkatkan harga diri, bahkan jika anak kita gagal mencapai apa yang dia inginkan.

Baca juga: 5 Cara Mengajari Anak Sportif Menerima Kekalahan

7. Kepercayaan

Kepercayaan adalah kualitas pertama yang dipelajari bayi. Ini merupakan fundamental awal dia merasa aman berada di sebuah lingkungan, khususnya keluarga.

"Ketika seorang bayi mempercayai lingkungannya dan merasa terikat secara aman dengan orangtuanya, dia aman untuk mengekspresikan dirinya."

Begitu penuturan seorang psikoterapis orangtua-anak, Kitty Hagenbach.

Jadi, ketahuilah bahwa semua tindakan kecil dalam merawat anak dapat menambah kekuatan pada diri kita sendiri sebagai orangtua.

Semua kerja keras itu membangun landasan yang akan mendorong anak-anak menuju ke kehidupan dewasa yang lebih bahagia dan percaya diri.

Baca juga: Kalimat-kalimat Positif untuk Anak Bantu Bangkitkan Rasa Percaya Diri



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X