Kompas.com - 27/11/2020, 15:38 WIB
Ilustrasi berjalan kaki shutterstockIlustrasi berjalan kaki
|
Editor Wisnubrata

Berhati-hatilah untuk tidak menekan emosi saat kita berusaha mengendalikannya.

Alasan lain mengapa kita sulit mengendalikan diri adalah ketika bagian otak yang bertanggung jawab atas emosi melepaskan bahan kimia yang membuat kita lebih sulit untuk berpikir jernih.

Saat kita merasa emosional, menarik napas dalam-dalam akan memberi oksigen ke otak untuk meminimalisir efek tersebut dan membantu kita tetap tenang.

"Kita menjadi tidak begitu protektif dan kehilangan keinginan melawan, sehingga kita dapat melangkah dengan lebih bijak," ujar Benjamin.

3. Motivasi

Orang yang cerdas secara emosional tetap termotivasi, bahkan ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan.

"Mereka adalah orang-orang yang dapat mengatasi kemunduran, ulet dalam menghadapi target, atau sasaran yang terlewat," terang dia.

Biasanya, orang yang termotivasi merasa seperti membuat perbedaan di dunia atau memiliki pekerjaan yang sesuai dengan kekuatan mereka. 

Saat mulai kehilangan semangat, cari mentor yang peduli dengan perkembangan kita dan tidak akan menilai buruk ketika kita membicarakan apa yang ada di balik kekecewaan itu.

Di sisi lain, ketahuilah bahwa orang yang sangat ambisius belum tentu cerdas secara emosional. Menggeser orang untuk mencapai tujuan hanya akan merugikan kita dan tim.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X