Kompas.com - 27/11/2020, 15:38 WIB
Ilustrasi bekerja sama. ShutterstockIlustrasi bekerja sama.
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali dan mengontrol emosi diri sendiri maupun orang lain.

Dalam buku berjudul "Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ", penulis Daniel Goleman menjabarkan lima komponen kecerdasan emosional antara lain kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial.

Dengan tempat kerja yang semakin kolaboratif, kecerdasan emosional dianggap menjadi lebih penting dari sebelumnya.

Saat ini, banyak pekerjaan yang tidak hanya membutuhkan orang-orang dengan kecerdasan intelektual saja, tetapi juga bagaimana mereka menghadapi kehidupan sosial.

Berikut lima komponen kecerdasan emosional yang penting dimiliki oleh seseorang dan bagaimana cara meningkatkannya.

1. Kesadaran diri

Ilustrasi diskusiTop Photo Group Ilustrasi diskusi
Pakar kecerdasan emosional, Jen Shirkani menjelaskan, bahwa kesadaran diri memiliki dua bagian yakni emosional dan sosial.

Kesadaran diri emosional adalah mengenali kekuatan, kelemahan, ciri kepribadian, gaya komunikasi diri sendiri dan banyak lagi.

"Mendapatkan kesadaran diri emosional relatif mudah karena kita dapat mengikuti tes kepribadian atau melakukan banyak refleksi diri," katanya.

Di sisi lain, kesadaran diri sosial juga melibatkan peran orang lain dalam memandang kita. Faktor ini lebih sulit dikenali karena persepsi tiap orang akan berubah dan sulit dibaca.

Pendapat orang lain tentu saja penting untuk membuat kita menjadi lebih memahami kesadaran diri.

"Salah satu tantangan kesadaran diri adalah kita tidak selalu mengetahui kelemahan kita," ungkap Bill Benjamin, pakar kecerdasan emosional dan mitra di Institute for Health and Human Potential.

Dia merekomendasikan kita mencoba penilaian 360 derajat, yang merupakan sistem untuk rekan kerja, manajer, teman, dan bahkan keluarga untuk memberi kita umpan balik secara anonim.

Shirkani menambahkan, jika kita ingin mengetahui tentang suatu sifat tertentu dalam diri kita, kita juga dapat meminta kritik yang lebih spesifik.

Misalnya, meminta rekan kerja memerhatikan keterampilan mendengarkan kita selama rapat untuk melihat apakah kita tampak terganggu atau sering menyela.

"Jika mereka tahu apa yang kita cari secara khusus, mereka dapat memberikan masukan lebih tepat," terangnya.

Baca juga: 5 Cara Menjadi Orangtua dengan Penuh Kesadaran

2. Pengendalian diri

Ilustrasi meditasishutterstock Ilustrasi meditasi
Pengaturan diri yang baik melibatkan pengendalian impuls untuk memastikan kita bertindak tepat untuk situasi yang dihadapi.

Saat emosi semakin tinggi, kita mungkin ingin mengirim email dengan sinis atau menangis selama rapat.

Namun, menyalurkan perasaan itu dengan menyibukkan diri pada sebuah pekerjaan atau jalan-jalan santai justru menunjukkan kecerdasan emosional kita.

Berhati-hatilah untuk tidak menekan emosi saat kita berusaha mengendalikannya.

Alasan lain mengapa kita sulit mengendalikan diri adalah ketika bagian otak yang bertanggung jawab atas emosi melepaskan bahan kimia yang membuat kita lebih sulit untuk berpikir jernih.

Saat kita merasa emosional, menarik napas dalam-dalam akan memberi oksigen ke otak untuk meminimalisir efek tersebut dan membantu kita tetap tenang.

"Kita menjadi tidak begitu protektif dan kehilangan keinginan melawan, sehingga kita dapat melangkah dengan lebih bijak," ujar Benjamin.

3. Motivasi

Ilustrasi berjalan kakishutterstock Ilustrasi berjalan kaki
Orang yang cerdas secara emosional tetap termotivasi, bahkan ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan.

"Mereka adalah orang-orang yang dapat mengatasi kemunduran, ulet dalam menghadapi target, atau sasaran yang terlewat," terang dia.

Biasanya, orang yang termotivasi merasa seperti membuat perbedaan di dunia atau memiliki pekerjaan yang sesuai dengan kekuatan mereka. 

Saat mulai kehilangan semangat, cari mentor yang peduli dengan perkembangan kita dan tidak akan menilai buruk ketika kita membicarakan apa yang ada di balik kekecewaan itu.

Di sisi lain, ketahuilah bahwa orang yang sangat ambisius belum tentu cerdas secara emosional. Menggeser orang untuk mencapai tujuan hanya akan merugikan kita dan tim.

"Terlalu berambisi dalam sebuah pekerjaan justru akan melelahkan diri sendiri dan orang lain, katanya.

Baca juga: Normalkah Hilang Motivasi Kerja Setelah Liburan Panjang?

4. Empati

.iStockphoto .
Empati bukan hanya tentang merasakan penderitaan orang lain selama masa-masa sulit, ini tentang memahami sudut pandang, tantangan, dan kekuatan mereka.

Kita tidak harus setuju dengan sudut pandang tersebut, tetapi hal ini akan membantu kita menyadari mengapa orang bertindak seperti itu.

Percakapan tentang bagaimana perasaan orang lain mungkin terdengar seperti buang-buang waktu, tetapi sebenarnya membantu produktivitas kita.

"Jika kita tidak terhubung dengan orang lain dan ada emosi atau stres yang tidak terkelola, kita akan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk hal-hal itu," jelas dia.

Meningkatkan empati itu semudah memanfaatkan keingintahuan kita.

"Setiap orang berbeda, dan mengajukan pertanyaan membuat kita dapat memahami mengapa seseorang merasakan apa yang mereka rasakan," kata Shirkani.

Mengakui emosi orang lain juga dapat meningkatkan empati dengan memvalidasi emosi orang lain.

Baca juga: 4 Cara Menumbuhkan Rasa Empati pada Anak

5. Keterampilan sosial

Ilustrasi people pleaserjustocker Ilustrasi people pleaser
Keterampilan sosial membantu orang yang cerdas secara emosional memenangkan hati orang lain dengan cepat.

"Ini adalah kemampuan untuk berbasa-basi, membangun hubungan dengan cepat, dan merasa nyaman dalam lingkungan sosial alami di mana mereka mungkin tidak mengenal orang," ujar dia.

Keterampilan sosial sangat penting selama percakapan yang sulit.

Sebelum memberikan kritik yang membangun, jelaskan bahwa kita membagikan pemikiran karena ingin membantu, bukan menghakimi atau menyalahkan.

Dengan begitu, orang lain bisa menerima apa yang kita katakan tanpa merasa stres karena  kehilangan rasa hormat.

Benjamin mengatakan, kita harus memperjelas niat positif untuk masuk ke dalam sebuah percakapan yang sulit karena itu membuat otak emosional mereka tenang.

Terapkan cara ini untuk memberikan lebih banyak kritik yang membangun tanpa menyinggung orang lain.

Baca juga: 7 Kecerdasan Emosional yang Harus Diajarkan pada Anak Sejak Dini



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X