Kompas.com - 04/12/2020, 15:40 WIB
Ilustrasi CT scan (pemindaian) dada (paru-paru) tunjukkan pneumonia, virus corona penyebab Covid-19. Ilustrasi CT scan (pemindaian) dada (paru-paru) tunjukkan pneumonia, virus corona penyebab Covid-19.

KOMPAS.com— Gangguan pada paru paru bisa berakibat fatal bagi tubuh. Ini karena fungsi paru paru sebagai alat pernapasan dan vital bagi kelangsungan hidup.

Beberapa hal seperti, kualitas udara yang buruk, lingkungan yang kotor, bakteri, kanker, hingga karena virus, bisa menjadi faktor penyebab gangguan kesehatan pada paru.

Kualitas udara di Indonesia yang buruk bisa menyebabkan salah satu masalah pernapasan yang umum diderita masyarakat yakni, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

ISPA bisa diderita oleh anak-anak hingga orang dewasa. Data Riskesdas 2018 dari badan kesehatan dunia WHO, bahkan menyebutkan bahwa ISPA adalah salah satu dari lima penyakit penyebab kematian.

Selain ISPA, ada beberapa penyakit lain yang juga disebut bisa mengganggu kesehatan pernapasan menurut dokter spesialis paru Dr. Andika Chandra Putra, di antaranya:

Baca juga: 6 Fakta Kualitas Udara Buruk Jakarta dan 3 Rekomendasi bagi Kita

1. Asma

Asma terjadi karena penyempitan saluran pernapasan yang membuat penderitanya merasa sesak napas hingga kesulitan bernapas.

Untuk melegakan pernapasan, melakukan terapi uap dengan nebulizer atau inhaler dapat membantu.

“Kita lapangkan saluran nafasnya dengan memberikan obat-obatan yang bersifat aeorosol. Bisa dengan pemberlian nebulizer ataupun obat-obat inhaler,” ujar Andika dalam “virtual media briefing peluncuran Produk Nebulizer Omron,” belum lama ini.

Baca juga: Persalinan Caesar Bikin Bayi Berisiko Tinggi Sakit Asma

2. Pneumonia

Pneumonia atau radang paru memiliki gejala yang menyerupai flu. Penyakit ini menjadi penyebab kematian balita terbesar kedua di Indonesia. 

Menurut UNICEF, lebih dari 19 ribu balita di Indonesia meninggal akibat pneumonia pada 2018. Ini berarti, lebih dari dua anak meninggal setiap jamnya karena pneumonia.

Adapun penyebab utama penyakit ini adalah infeksi bakteri, virus, dan jamur. Polusi udara merupakan 50 persen penyebab kematian anak akibat pneumonia. Perburukan penyakit ini terjadi karena kekebalan tubuh yang rendah.

IlustrasiFreepik Ilustrasi

3. Tuberkulosis (TB)

TB adalah penyakit infeksi yang menular dan biasanya menyerang paru-paru karena adanya bakteri mycobacterium tuberculosis.

Indonesia menduduki peringkat tiga sebagai negara dengan kasus TB terbanyak di dunia. 

“Di Indonesia sendiri TB dialami semua usia dari bayi-65 tahun, tapi umumnya di usia produktif,” ujar Andika.

TB bisa menjadi masalah baru karena pengobatan yang tidak tuntas. Hal ini menyebabkan penderita menjadi resisten obat.  Padahal pemerintah sudah menyediakan obat-obatan gratis untuk mengobati penyakit ini.

Baca juga: WHO Soroti Tuberkulosis di Indonesia dan Penanganannya Saat Pandemi

4. Kanker paru

Sekitar 1,36 juta orang setiap tahun meninggal karena kanker paru, ini menjadikan kanker ini sebagai penyebab kematian tertinggi, bukan hanya di Indonesia tapi juga dunia.

Pasien kanker paru banyak yang tak tertolong karena saat didiagnosis penyakitnya sudah stadium lanjut. Hal ini terjadi karena gejala kanker paru yang tak diketahui.

“Batuk tidak sembuh-sembuh, berat badan yang turun secara drastis, batuk berdarah, harus diwaspadai,” kata Andika.

Sebenarnya, kewaspadaan akan kanker paru ini sudah bisa dilakukan terhadap mereka yang memiliki faktor risiko seperti mereka yang merokok, baik merokok berat, merokok aktif, pasif dan bekas perokok, atau mereka yang memiliki riwayat kanker.

Baca juga: Lihatlah yang Terjadi pada Tubuh Setelah Kita Berhenti Merokok

5. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Penyakit paru obstruktif kronis ( PPOK) adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan sejumlah penyakit yang menyerang paru-paru untuk jangka panjang.

Penyakit ini menghalangi aliran udara dari dalam paru-paru, sehingga pengidapnya akan mengalami kesulitan dalam bernapas.

Sama seperti kanker, penyebab dari PPOK ini adalah kebiasaan merokok.

“Kalau kanker meneyebabkan sel upnormal, kalau PPOK ini elastisitas dari parunya berkurang sehingga menyebabkan penyempitan saluran napas,” ujar Andika.

Gejala PPOK hampir mirip dengan asma, yaitu batuk mengi, sesak napas berat, atau seringkali sesak napas saat beraktifitas. 

Karena prevalensi dari perokok cukup tinggi, hampir 384 juta orang menderita PPOK, dan 3 juta diantaranya meninggal.

Baca juga: Penderita Paru Obstruktif Kronis Rentan Terinfeksi Covid-19



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X