Kompas.com - 08/01/2021, 13:32 WIB

KOMPAS.com - Membangun komunikasi yang baik adalah kunci hubungan yang sehat. Pemilihan kata yang digunakan juga berpengaruh terhadap komunikasi antara kamu dan pasangan.

Namun pakar hubungan mengingatkan tidak semua kata yang terkesan positif bisa dipakai saat berkomunikasi dengan pasangan. Beberapa kata sebaiknya dihindari.

Salah satu kata yang sebaiknya tidak dipakai adalah "harus". Dalam hubungan, kata tersebut cenderung dikaitkan dengan penilaian dan harapan yang tidak adil.

"Harapan yang melekat pada kata 'harus' seringkali berakar pada keyakinan yang tidak realistis, kebutuhan yang tidak disuarakan, atau penilaian tentang bagaimana orang meyakini bagaimana sebaiknya perilaku pasangan."

Hal itu diungkap Natalie Finegood Goldberg, LMFT, psikoterapis berlisensi dan terapis seks berlisensi.

Baca juga: Kiat Memperbaiki Komunikasi yang Buruk dengan Pasangan

Menurutnya, kata "harus" bermasalah karena ini setara dengan saling tuding, yang cenderung kritis dan menimbulkan sikap defensif."

Goldberg mengatakan, ketika kita berkomunikasi dengan kata 'harus', kita membuat pasangan merasa bahwa dia bertanggung jawab atas perasaan kita.

Kata "harus" juga menyebabkan pasangan merasa kita kurang menghormatinya, menurut psikolog klinis Carla Manly, PhD, penulis "Joy from Fear: Create the Life of Your Dreams by Making Fear Your Friend".

"Hubungan cenderung berkembang ketika pasangan berkomunikasi dalam cara kooperatif dan tidak mempermalukan."

"Penggunaan kata 'harus' akan membawa pasangan ke dinamika hubungan yang tertutup atau menghindar," sebut Manly.

Pakar pernikahan dan keluarga Darcie Brown mengatakan penggunaan kata "harus" dengan pasangan juga membuat dia merasa kita mencoba mengalahkannya.

Baca juga: Wajah Mirip dengan Pasangan, Benarkah Pertanda Jodoh?

Ketika seseorang merasa pasangannya terlalu mengambil kendali, dia tidak menjadi diri sendiri dalam hubungan tersebut.

"Kata 'harus' biasanya merupakan cara untuk memaksakan nilai-nilai seseorang pada orang lain," sebut Brown.

Kata "harus" juga berdampak buruk karena itu menghilangkan otonomi seseorang dan memberi makna 'saya lebih tahu dari Anda'.

Baca juga: Mencegah Salah Paham Komunikasi dengan Pasangan

Selain kata "harus", ada lima kata lain yang dapat menyakiti pasanganmu.

1. "Selalu"

Pakar hubungan Jaime Bronstein, LCSW, menyebut kata "selalu" adalah mutlak. Menggambarkan perilaku pasangan dengan kata "selalu" dapat merusak hubungan dalam jangka panjang.

"Contohnya, Anda kesal karena pasangan selalu menaruh pakaiannya di lantai. Anda berhak untuk marah," kata Bronstein.

"Tetapi faktanya, dia tidak selalu menaruh pakaiannya di lantai. Beri ruang pada pasangan untuk memaklumi kesalahannya sesekali dan ketahuilah hal itu tidak berdampak pada Anda."

2. "Tidak pernah"

Kata "tidak pernah" adalah kata ekstrem yang sebaiknya dihindari. Di saat kita memberi tahu pasangan bahwa dia 'tidak pernah' melakukan sesuatu, kata itu dapat mengurangi aspek positif dari perilaku seseorang.

"Akibatnya, pasangan cenderung memberikan jawaban defensif, yang tidak produktif untuk menyelesaikan konflik," kata Brown.

Baca juga: Sering Konflik dengan Pasangan Memicu Penyakit Fisik

3. "Tapi"

Apabila pasangan menceritakan sesuatu kepada kita, berhati-hatilah dalam merespon. Menjawab dengan kata "tapi" bukan pilihan yang efektif, menurut Lynell Ross, pelatih hubungan bersertifikat.

Ross mengatakan, ketika kita menggunakan kata "tapi", kita menilai negatif atas apa yang dikatakan pasangan dan membuat dia beranggapan kita tidak bisa memahami atau bahkan mendengarkannya.

4. "Kamu"

Kata "kamu" bisa dipakai untuk kalimat romantis, contohnya "aku cinta kamu". Tapi, "kamu" juga dapat menimbulkan konflik dalam hubungan.

"Mengatakan sesuatu seperti 'kamu membuatku sangat marah', atau 'kamu menunda-nunda lagi,' membuat pasangan berpikir Anda menyalahkan dia," jelas Ross.

Membingkai kalimat dengan cara ini juga membuat pasangan merasa diserang atau dihakimi.

Baca juga: 5 Cara Mudah Buat Hubungan Pernikahan Jadi Lebih Baik

5. "Butuh"

Mengungkapkan kebutuhan dalam suatu hubungan itu penting, namun kata "butuh" cenderung melekat pada keinginan bukan kebutuhan, menurut pakar kesehatan mental Michelle Pargman.

"Kata 'butuh' bisa membuat kita bertengkar secara tidak sengaja dengan orang yang paling kita sayangi. Sebab ketika kita menggunakan kata 'butuh', kita menilainya sama pentingnya dengan oksigen," kata Pargman.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber BestLife
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.