Lebih Hemat, 3 Makanan Ikan Cupang Berikut Bisa Dibudidayakan Sendiri

Kompas.com - 11/01/2021, 06:02 WIB
Foto dirilis Kamis (1/10/2020), memperlihatkan seekor ikan cupang jenis halfmoon berenang di aquarium milik peternak Tiano Morello di Bogor, Jawa Barat. Di tengah lesunya sejumlah penjualan selama pandemi Covid-19, ikan cupang (Betta sp.) justru muncul menjadi primadona seiring banyaknya peminat dan penjualan yang melonjak pesat. ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRAFoto dirilis Kamis (1/10/2020), memperlihatkan seekor ikan cupang jenis halfmoon berenang di aquarium milik peternak Tiano Morello di Bogor, Jawa Barat. Di tengah lesunya sejumlah penjualan selama pandemi Covid-19, ikan cupang (Betta sp.) justru muncul menjadi primadona seiring banyaknya peminat dan penjualan yang melonjak pesat.

KOMPAS.com - Memelihara ikan cupang kini sedang sangat digemari oleh masyarakat.

Alasannya beragam, mulai dari warnanya yang cantik dan beragam, karakternya yang tanggung, hingga perawatannya yang tergolong mudah.

Nah, salah satu kunci sukses memelihara atau bahkan membudidayakan cupang adalah menyediakan makanan dalam jumlah cukup.

Beberapa makanan yang umum diberikan untuk cupang seperti kutu air, jentik-jentik nyamuk dan cacing sutra.

Makanan alami tersebut bisa dibeli atau diburu sendiri dari alam. Agar lebih hemat, kita juga bisa membudidayakannya sendiri di rumah, lho.

Dikutip dari buku "Petunjuk Praktis Memelihara Cupang" yang ditulis oleh Neni Suhaeni, selain dapat menghemat biaya, membudidayakan makanan alami sendiri dapat menjamin kebersihan dan ketersediaan makanan.

Namun, untuk membudidayakannya kita perlu mengumpulkan niat dan meluangkan waktu yang cukup, termasuk untuk membekali diri dengan pengetahuan dan informasi.

Berikut tips singkat membudidayakan makanan alami untuk cupang yang bisa kamu coba di rumah:

1. Budidaya kutu air
Kutu air sangat baik untuk makanan larva cupang yang sudah habis kuning telurnya dan juga untuk induk betina yang hendak dikawinkan.

Di alam bebas, kutu air banyak terdapat di kolam-kolam atau genangan air yang berbahan organik tinggi.

Mereka hidup dari kesuburan perairan.

Sementara di rawa atau sungai, kutu air juga bisa ditemukan di antara kayu-kayu yang terapung ataupun tanggul kayu yang terendam air.

Namun, kamu bisa membeli bibit kutu air atau menangkapnya di perairan umum.

Cara membudidayakannya tidak sulit, bahkan kutu air bisa diternakkan menggunakan paso. Tahapannya antara lain:

  • Agar bisa menahan air, lapisi pasu dengan semen terlebih dahulu menggunakan kuas yang biasa digunakan untuk mengecat.
  • Setelah kering, bilas paso dengan air dan disikat agar bau semennya hilang. Sebab, paso yang masih berbau semen biasanya akan mematikan kutu air yang dibudidayakan di dalamnya.
  • Paso yang akan dipakai untuk membudidayakan kutu air sebaiknya terlebih dahulu diisi dengan kotoran ayam kering sebanyak 1-2 kg yang dicampur dengan 10 liter air.
  • Aduk campuran tersebut menggunakan pompa aerasi selama lima hari.
  • Di wadah terpisah, larutkan 20 gram bungkil kelapa yang dihaluskan dalam 2 liter air.
  • Campurkan kedua larutan dan saring untuk membuang endapannya, sehingga hanya airnya saja yang digunakan untuk media hidup kutu air.
  • Letakkan paso berisi larutan di tempat yang terlindung dari sinar matahari dengan suhu berkisar 27-30 derajat Celcius.
  • Tiga hari kemudian, masukkan benih kutu air. Dengan suhu otimal dan pH berkisar 6,6-7,4 benih kutu air akan berkembang biak dengan pesat.
  • Seminggu kemudian, kutu air mulai bisa dipanen. Untuk memberi makan benih cupang, sebaiknya berikan kutu air kecil, sementara untuk memberi makan induk cupang sebaiknya berikan kutu air dewasa.
  • Setiap habis panen, tambahkan cairan pupuk ke dalam media budidaya sebanyak 2,5-5 liter. Agar benih tidaka hanyut bersama air yang ditambahkan, paso sebaiknya diberi lubang yang memiliki saringan.

Baca juga: 3 Penyakit pada Ikan Cupang yang Perlu Diwaspadai

2. Budidaya jentik-jentik nyamuk
Jentik-jentik nyamuk bisa kita dapatkan dengan mudah pada genangan air yang kotor maupun bersih, kolam, selokan, comberan, dan lainnya.

Sebaiknya, gunakan jentik nyamuk jenis Culex (nyamuk biasa) yang tidak membahayakan.

Beberapa tahapan yang diperlukan, antara lain:

  • Sediakan tempat sebagai pemikat induknya atau tempat untuk menetaskan telur-telurnya.
  • Jika ingin menetaskan telur-telurnya, gunakan ember plastik kecil berdiameter sekitar 30 cm dan isi ember denggan air bekas cucian beras setinggi 10-30 cm.
  • Letakkan ember di tempat teduh. Untuk mencegah agar tidak terkena kotoran, pasang atap sekitar 10 cm di atas ember.
  • Dalam waktu 2-3 hari, umumnya media tersebut akan disinggahi nyamuk. Untuk mengetahuinya, biasanya ditandai dengan adanya selaput tipis pada permukaan larutan. Jika tidak, berarti cairan tersebut terlalu encer, jadi tunggulah dua hari lagi.
  • Bila setelah dua hari belum ada telur nyamuk, ganti larutan dengan yang baru.
  • Setelah nyamuk-nyamuk mau singgah dan bertelur, ambil telur dengan lidi dan pindahkan ke media penetasan. Media penetasan biasanya juga dipakai untuk pemeliharaan dan bahannya juga larutan bekas cucian beras.
  • Tutup tempat penetasan dengan kelambu agar tidak terusik oleh binatang lainnya.
  • Telur-telur biasanya sudah menetas dalam 2-5 hari dan siap panen untuk diberikan kepada induk atau remaja cupang.
  • Opsi lebih praktis untuk membudidayakan jentik-jentik nyamuk adalah menggunakan meddia kotoran ayam yang dilarutkan ke dalam paso atau kolam tanah. Nyamuk biasanya akan tertarik bertelur di sana, dan kita tinggal memungut hasilnya.

Baca juga: Mengapa Harga Ikan Cupang Bisa Capai Puluhan Juta?

3. Cacing sutra
Cacing sutra dikenal sebagai makanan alami yang dapat memacu pertumbuhan badan ikan hias, termasuk cupang.

Beberapa tahapan yang perlu dilakukan untuk membudidayakan cacing sutra, antara lain:

  • Siapkan kulit kacang-kacangan atau bahan lain yang sudah membusuk, karung goni dari serat rosella dan debit air yang cukup.
  • Ukuran bak tempat membudidayakan cacing bisa bervariasi, mulai dari 1,5 meter persegi hingga 10 meter persegi. Dasar bak bisa dibuat dari semen, namun tak masalah untuk tidak disemen jika tanahnya dianggap cukup kedap.
  • Timbun dasar bak dengan selapis karung goni hingga rapat. Di atasnya, sebarkan campuran sembilan bagian kotoran ayam dan satu bagian kulit kacang-kacangan kering. Tebal sebaran campuran minimal 2 cm.
  • Tutup atas campuran engan karung goni yang lain, kemudian ulangi tahapan sebelumnya sesuai keinginan.
  • Tutup lapisan paling atas dengan lembaran karung goni untuk menjaga agar pupuk atau media hidup cacing tidak hanyut terbawa air.
  • Alirkan air ke dalam bak pemeliharaan cacing sutra. Ini dilakukan untuk menjamin suplai oksigen dan menghanyutkan kotoran. Jika media hidup sudah terdapat benih cacing, aliran air juga bermanfaat untuk menghanyutkan kotoran cacing dan cacing-cacing yang mati.
  • Untuk memepercepat proses pertumbuhannya, tebarkan bibit cacing ke dalam media pemeliharaan.
  • Diperlukan waktu dua minggu unutk pertumbuhan cacing sutra. Pemanenan dilakukan setelah cacing terlihat memenuhi media budidaya, yakni sektiar 3-4 minggu sejak penebaran.
  • Agar bisa terus memanen cacing secara teratur, jaga kelangsungan keturunan cacing dengan baik. Jika pertumbuhannya dirasa sudah tidak pesat, perbaiki media hidupnya.
  • Gunakan serokan untuk memanen cacing. Bersihkan cacing yang dipanen tersebut dengan menempatkannya di dalam ember atau menggunakan corong khusus cacing.

Baca juga: Simak, 3 Tips Penting Memelihara Ikan Cupang untuk Pemula



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X