Kompas.com - 11/01/2021, 06:30 WIB
Ilustrasi anosmia, gejala Covid-19, gangguan penciuman pasien Covid-19. SHUTTERSTOCK/NENAD CAVOSKIIlustrasi anosmia, gejala Covid-19, gangguan penciuman pasien Covid-19.

KOMPAS.com - Kehilangan indera penciuman dan perasa menjadi dua di antara sejumlah gejala Covid-19 yang sudah kita ketahui.

Namun, berdasarkan orang-orang yang pernah mengalaminya, dua gejala ini dapat terjadi berkepanjangan. Apakah mungkin gejala ini bisa permanen?

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan AS (CDC), bagi sejumlah kecil orang yang tertular Covid-19, hilangnya kemampuan indera perasa dan penciuman secara permanen dapat menjadi kenyataan yang tidak menguntungkan, di samping jumlah kasus dan korban meninggal yang masih terus bertambah.

Banyak orang yang terinfeksi virus ini melaporkan gejala anosmia atau hilangnya kemampuan indera penciuman, dan kemampuan indera perasa.

Biasanya, kemampuan kedua indera tersebut kembali setelah sembuh dari virus, biasanya dalam waktu beberapa pekan.

Tetapi, banyak orang melaporkan gejala anosmia terjadi bahkan hingga berbulan-bulan setelah mereka pulih dari Covid-19.

Baca juga: Parosmia, Gangguan Rasa dan Penciuman Setelah Sembuh dari Covid-19

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Memengaruhi kualitas hidup

Kini kita masih menunggu sejumlah penelitian yang sedang berlangsung untuk mengetahui kepastian berapa lama gejala tersebut dapat bertahan sebelum akhirnya pulih.

Meskipun kehilangan indera penciuman dan perasa berkepanjangan jarang terjadi, kondisi ini masih berpotensi mengkhawatirkan.

Ditambah dengan isolasi sosial dan anhedonia (ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan), kondisi tersebut bisa memperburuk rasa keterasingan yang telah dirasakan.

Efek lainnya yang juga mungkin terganggu akibat kehilangan kemampuan indera penciuman dan perasa berkepanjangan adalah asupan nutrisi.

Orang dengan anosmia mungkin masih merasakan rasa dasar, seperti asin, asam, manis, dan pahit.

Namun, penciuman menambah kompleksitas pada persepsi rasa melalui ratusan reseptor bau yang memberi sinyal ke otak.

Bau sangat erat kaitannya dengan rasa dan nafsu makan, dan kondisi berkepanjangan dari dua gejala tersebut tentu dapat merampas kenikmatan makan seseorang.

Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat berdampak besar terhadap suasana hati dan kualitas hidup seseorang.

"Hal itu dapat mengubah cara seseorang memandang lingkungan dan tempat mereka di lingkungan tersebut. Perasaan sejahtera mereka bisa berkurang."

"Ini bisa menjadi sesuatu yang menggelisahkan dan membingungkan," kata Dr. Sandeep Robert Datta, profesor neurobiologi dari Harvard Medical School kepada The New York Times.

Baca juga: Lakukan 3 Langkah Penting Ini Jika Alami Gejala Ringan Covid-19

Meskipun junlahnya mungkin sedikit, namun bayangkan jika kondisi tersebut dialami oleh sejumlah orang dari berbagai negara.

Menurut Datta, hal itu sangat penting jika dilihat dari perspektif kesehatan masyarakat.

"Bahkan jika hanya 10 persen yang mengalami kehilangan penciuman (dan perasa) yang lebih lama, kita berbicara tentang kemungkinan jutaan orang (di dunia)."

Itulah mengapa penting untuk terus disiplin menerapkan 3M (menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan) demi mengurangi penyebaran Covid-19 serta mencegah diri kita mengalami gangguan indera penciuman dan perasa.

Baca juga: Perlukah Divaksin jika Pernah Positif Covid-19? Ketahui 2 Hal Berikut



Sumber Yahoo,nytimes
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X