Kompas.com - 15/01/2021, 19:20 WIB
Ilustrasi sakit tenggorokan. SHUTTERSTOCKIlustrasi sakit tenggorokan.

KOMPAS.com - Orang-orang yang mulai melakukan seks oral pada usia muda atau dengan intensitas sangat besar akan menghadapi peningkatan risiko kanker tenggorokan atau orofaring.

Berdasarkan data dari CDC, sekitar 3.500 wanita dan 16.200 pria didiagnosis menderita kanker orofaring terkait HPV setiap tahun di Amerika Serikat.

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan secara online dalam jurnal Cancer pada 11 Januari, berfokus terhadap kanker orofaring yang disebabkan oleh human papillomavirus (HPV).

Seperti yang sudah kita ketahui, HPV juga menjadi infeksi menular seksual yang menyebabkan kanker serviks.

Penelitian telah menemukan, bahwa risiko kanker orofaring terkait HPV umumnya terjadi pada pasangan yang sering melakukan seks oral.

Baca juga: 7 Bahaya Seks Oral dari Penyakit Menular Seksual yang Perlu Diwaspadai

Usia muda dan terlalu sering

Dari hasil temuan tersebut, risiko kanker 80 persen lebih tinggi di antara orang-orang yang mulai melakukan seks oral sebelum usia 18 dan setelah usia 20.

Sementara itu, risiko kanker orofaring hampir tiga kali lipat terjadi di antara orang-orang yang telah memiliki lebih dari lima pasangan seks oral per dekade sejak menjadi aktif secara seksual.

Peneliti utama dari Johns Hopkins University di Baltimore, Dr Virginia Drake mengatakan, penelitian ini adalah cara mengukur "intensitas" paparan orang terhadap pasangannya dan potensi terhadap HPV oral.

Dia menunjukkan, bahwa HPV adalah infeksi menular seksual yang paling umum di dunia.

Baca juga: Mengapa Vaksin HPV untuk Cegah Kanker Serviks Diberikan Dua Kali?

CDC juga mengatakan, hampir semua orang yang aktif secara seksual akan tertular virus di beberapa titik.

Jadi, penting untuk menggali faktor-faktor yang membuat orang-orang rentan terhadap infeksi HPV dan menyebabkan kanker.

Tak perlu dihindari

Di sisi lain, profesor kedokteran di University of Washington Center for AIDS and STD, di Seattle, Dr H. Hunter Handsfield mengatakan orang tidak perlu takut melakukan seks oral.

Pertama, katanya, seks oral umumnya lebih aman daripada penetrasi dalam hal risiko penyakit menular seksual.

"Dan apa yang tidak dapat dijawab oleh penelitian yakni jika saya mengambil orang muda dan menyarankannya untuk menghindari seks oral, apakah saya menurunkan risiko kanker tenggorokannya?" terangnya.

Menurut dia, HPV sangat lazim dan pada dasarnya itu adalah paparan yang tidak dapat dihindari untuk aktif secara seksual.

Baca juga: Sebelum Terlambat, Ubah Gaya Hidup demi Mencegah Kanker

"Oleh sebab itu, cara terbaik untuk menurunkan risiko kanker terkait HPV adalah dengan vaksin HPV," ujarnya.

Handsfield mengatakan, penelitian ini dilakukan dengan baik dan membantu menyempurnakan bukti tentang perilaku seks oral dan kanker tenggorokan terkait HPV.

Dia menambahkan, meskipun peserta studi berada pada risiko kanker yang relatif lebih besar daripada yang lain, itu tidak berarti risiko mutlak dari kanker ini tinggi.

"Ini masih merupakan kanker yang cukup jarang terjadi," ungkapnya.

Kendati demikian, Drake mencatat, jika tubuh pertama kali terkena HPV melalui mulut, daripada alat kelamin, respons kekebalan tubuh mungkin lebih lemah.

Baca juga: Pria, Perhatikan Hal Ini Saat Melakukan Seks Oral



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X