Kompas.com - 25/01/2021, 19:25 WIB
Bayi yang baru lahir memakai pelindung wajah atau Face Shield di ruangan Perina di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tambak, Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2020). Rumah Sakit Ibu dan Anak Tambak, mulai 12 April membuat kebijakan bahwa bayi yang baru lahir di RS tersebut dipakaikan alat pelindung wajah (face shield), penggunaan pelindung wajah sebagai upaya pencegahan penyebaran virus korona atau covid-19. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGBayi yang baru lahir memakai pelindung wajah atau Face Shield di ruangan Perina di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tambak, Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2020). Rumah Sakit Ibu dan Anak Tambak, mulai 12 April membuat kebijakan bahwa bayi yang baru lahir di RS tersebut dipakaikan alat pelindung wajah (face shield), penggunaan pelindung wajah sebagai upaya pencegahan penyebaran virus korona atau covid-19.

KOMPAS.com— Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN) memprediksi bahwa 4 tahun ke depan dari 20 juta kelahiran bayi, tujuh juta diantaranya berpotensi mengalami stunting.

Dengan perkiraan ini, maka presentase bayi yang mengalami stunting di Indonesia akan meningkat menjadi 27 persen.

Data ini diungkapkan oleh Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, seusai rapat kabinet terbatas dengan Presiden, Senin (25/1/2021).

Presiden Joko Widodo kemudian mengambil tindakan dengan menunjuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN) untuk memimpin Pelaksanaan Percepatan Penurunan Stunting.

Baca juga: Jokowi Tunjuk BKKBN Pimpin Percepatan Penurunan Stunting

Sebenarnya, apa itu stunting dan apa penyebabnya? Berikut penjelasannya.

Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Tak hanya pertumbuhan bayi saja yang terhambat, perumbuhan otak juga disebut tidak maksimal.

Hal ini menyebabkan berkurangnya kemampuan otak untuk bejar yang kemudian akan berpengaruh pada prestasi mereka saat menempuh pendidikan.

Baca juga: Gagal Paham Soal Nutrisi Bisa Sebabkan Anak Stunting

Stunting dan kondisi lain terkait kurang gizi, juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi, saat usia dewasa.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X