Kompas.com - 09/02/2021, 12:01 WIB
Ilustrasi cegukan shutterstockIlustrasi cegukan

KOMPAS.com - Cegukan memang bukan hal yang berbahaya dan akan berhenti dengan sendirinya.  Namun ada beberapa orang yang bisa mengalami cegukan relatif lama dan tidak bisa berhenti. Tentu saja cegukan seperti itu bakal mengganggu kita.

Cegukan terjadi ketika ada kontraksi otot diafragma yang berulang dan tidak terkendali.

Hal-hal yang dapat memicu cegukan yang sifatnya sementara yaitu minuman bersoda, makanan pedas, alkohol, merokok, stres, dan sebagainya.

Daniel Allan, MD, dokter pengobatan keluarga di Cleveland Clinic, menjelaskan penyebab cegukan.

Baca juga: Benarkah Cegukan Jadi Gejala Baru Infeksi Covid-19?

Menurutnya, saat diafragma (otot yang terletak di antara paru-paru dan perut) menjadi teriritasi, maka diafragma akan mulai kejang. Kejang ini menyebabkan apa yang dikenal sebagai cegukan.

Cegukan bisa terjadi jika ada gangguan pada jalur saraf yang mengarah dari otak ke diafragma.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal itu menjelaskan mengapa kita terkadang mengalami cegukan saat menghadapi situasi emosional atau perubahan suhu.

"Cegukan juga dapat muncul setelah Anda menelan terlalu banyak udara, makan terlalu cepat atau terlalu banyak, atau mengalami kegembiraan atau kecemasan," ujar Allan.

"Di dalam rahim, cegukan mungkin merupakan latihan paru-paru yang diprogram untuk membantu pernapasan janin. Penyebab cegukan lainnya mungkin termasuk refluks asam dan minum softdrink."

Baca juga: Trik Hilangkan Cegukan yang Mengganggu

Jika kita mengalami cegukan dalam waktu beberapa hari atau lebih,  segera periksakan diri ke dokter.

"Ini mungkin menunjukkan adanya masalah medis yang membutuhkan perhatian. Terkadang, penyakit tertentu atau bahkan prosedur medis, terutama yang melibatkan anestesi, dapat menyebabkan cegukan yang berkepanjangan," jelas dia.

Banyak jenis pengobatan yang disebut dapat menyembuhkan cegukan. Namun menurut para ahli, tidak ada yang bisa dibuktikan secara ilmiah.

Hanya saja, ada beberapa kasus di mana peningkatan karbon dioksida dapat membantu mengatasi cegukan.

"Menahan napas atau menarik napas ke dalam kantong kertas meningkatkan kadar karbon dioksida di paru-paru dan dapat mengendurkan diafragma, menghentikan kejang dan cegukan," kata Allan.

Baca juga: Memahami Perbedaan Heartburn, Refluks Asam Lambung, dan GERD



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.