Kompas.com - 10/02/2021, 14:55 WIB
Ilustrasi menikah ShutterstockIlustrasi menikah

2. Kognitif

Pada saat hamil, energi seorang ibu itu habis semua ke bayinya. Padahal, anak-anak di bawah 19 tahun itu masih dalam fase pertumbuhan.

"Jika dia menikah lalu hamil di masa pertumbuhan, kecerdasannya juga tidak akan berkembang secara optimal," terangnya.

"Sehingga, dia menjadi perempuan yang tidak pandai dan akhirnya menjadi ibu yang tidak pandai," sambung dia.

Dengan menjadi ibu yang tidak pandai, dia tidak bisa menstimulasi anaknya dengan baik. Akhirnya generasi penerusnya menjadi kacau dan bermasalah.

3. Emosional

Perkembangan emosi seorang remaja banyak diwarnai oleh gejolak karena di ini tugas perkembangannya adalah mencari identitas diri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Nina, pernikahan dini sangat menghambat seseorang yang sedang mencari identitas diri. Apalagi, jika pernikahan tersebut mengandung kekerasan.

"Hal itu sangat tidak sehat bagi perkembangan identitasnya. Dia bisa menjadi seorang perempuan yang tidak tahu tujuan, hanya ikut-ikutan saja," jelasnya.

Di fase ini, para remaja juga memiliki emosi yang labil. Sehingga, ketika anak-anak menikah di usia di bawah 19 tahun itu rentan sekali bertengkar.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.